Alkisah ada seorang anak perempuan dari negri Cina merantau kenegri Paser, Kalimantan Timur Indonesia. Sesampainya di tenah paser anak perempuan ini mengadu nasibnya dengan berjualan kue keliling dari desa kedesa dengan cara di junjung diatas kepala. “kuenya…buk, kuenya pak… ujar gadis itu berjalan dari satu desa kedesa yang lainya. Dengan semangat pantang menyerahnya dan bermodalkan keterampilan menbuat kue yang enak anak perempuan ini berhasil memikat selera dan hati konsumenya menjadi buah bibir ditengah-tengah masyrakat kampung.
Desas-desus tersebut sempailah ke telingan Raja Pase yang berkuasa saat itu, beliau ingin sekali melihat perempuan dan menikmati kue buatanya. Yang katanya terkenal enak dilidah raknyatnya, singkat cerita akhirnya anak perempuan itu dipertemukan dengan raja paser dan menpersuntingnya menjadi istri. Semenjak itu timbulah julukan Dayang Junjung keperempuan dari negri cina itu.
Lam’ah Barkiah adalah seorang UKM makan mitara LPB Pama Daya Taka yang beralamatkan jl. Padat Karya No.100 RT.016 Batu Kajang, kecamatan Batu Sopang, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Beliau terinspirasi dari cerita perjungan pantang menyerah dari perempuan cina yang bejualan kue keliling sehingga jadi mulia drajadnya menjadi istri seorang raja, maka beliau menberi nama usaha dagangnya “Kerpik Dayang Junjung” berharap usahanya akan sukses.
Bermodalkan pisang 2 sisi dan singkong 3 kg yang beliau dapat dari kebun blakang rumanya, beliau memulai usahanya itu dengan parutan sederhana dan tungku kayu yang di buatnya sendiri sampai keripik jadi dalam kemasan Rp 1000. Beliau mulai bingung mau dijual kemana keripik ini??? Ujarnya dalam hati, beliau meminta saran suaminya yang berpropesi sebagai pegawai Satpol PP (atasan) suminya berkata “dek, apakah kamu tidak malu berjualan keripik yang Cuma Rp 1000? Tidak! Jawabnya lantang.
Mulai lah beliau berjalan kewarung-warung dekat rumahnya, awalnya memang sedikit canggung untuk menawarkan ke pemilik warung. Dengan tekatnya beliau menberanikan diri untuk masuk kewarung tersebut “buk, saya ada produk keripik bolehkah di jual di warung ibu? Boleh ibuk rasakan dulu keripik buatan saya” ujar beliau. Akhirnya pemilik warung tertarik untuk menaro jualannya di warunya.
Dari kemasan seribu beliau berjalan menjajakan keripikya, dari warung ke warung, dari toko ke toko, dari sekolah ke sekolah lainya dari desa satu kedesa satunya lagi di kecamatan Batu Sopang. Beliau terus konsisten menjalankan usaha keripik tersebut sampai pendapatan bertambah, jumlah produksi meningkat, dari dikerjakan sendiri akirnya punya kariawan produksi dari marut sampai pengemasan luar biasa perjungan beliau. Hilangkan malu, mau kamu istri pejabat kek, mau km istri orang gak punya kek, kalu ada kemauan pasti ada jalan Ujar beliau sambil tertawa Lam’ah Barkiah.
“Tidak Ada Yang Sia-Sia Dalam Sebuah Perjuangan, Apapun Hasinya! Pasti Ada Hikmahnya” Semangat…… pagiiii. Rendu Afrio Zani LPB PDT.
