Menjadi seorang petani hortikultura pasti akan berhadapan dengan alam. Musim kemarau, dan penghujan, jika musim penghujan maka banjir pasti akan dihadapai, jika kemarau maka kekeringan yang akan dihadapai. Hal inilah yang dialami mitra petani hortikultura Lembaga Pengembangan Bisnis Pama Daya Taka (LPB-PDT). Sosok ini sudah hampir 10 tahun mengadu nasip menjadi petani, menikmati masa keramaian dan mudahnya mengais rupiah dari karyawan perusahaan tambang yang masih berjaya pada waktu itu. Maklum ekonomi masyarakat di sini sangat tergantung dari sektor pertambangan batu bara.
Lesunya ekonomi karena menurunnya harga batu bara saat ini sepertinya berdampak pada penurunan hasil panen secara drastis ya?. Tapi ternyata bukan, harga batu bara yang murah tidak mempengaruhi sejatinya. Masalah utamanya karena musim yang tidak menentu menjadi penghadang bagi petani. “Ya, berbulan-bulan ini tidak ada hari tanpa hujan mas, setiap hari hujan dan ini berakibat buruk bagi petani sehingga gagal panen karena banyaknya penyakit”, sahut salah satu petani mitra LPB, pada waktu itu dibawah rindangnya tanaman cabai.
Memang faktor alam menjadi penghalang bagi petani, dan kita hanya bisa sampaikan untuk berdoa agar iklim yang tidak menentu ini segera berubah. Dan ahirnya waktu itupun datang, petani dihadiahi oleh yang Maha kuasa tanaman yang subur tapi, faktor yang tidak disangka- sangka datang, tanamannya roboh dan tidak berbuah. Nasi telah menjadi bubur, Jutaan rupiah hilang. Sang petani hanya bisa meratapi kelalainya karena kurang mengantisipasi kekuatan tongkat penyangga tanamanya.
Tidak sampai disitu doa agar musim penghujan selesai ternyata dikabulkan oleh yang Maha kuasa. Sudah seminggu daerah Batu Kajang tidak turun hujan. Dan kita sebagai pendamping ikut turut bahagia, karena yang diharapkan petani tercapai. Tapi ternyata ini menimbulkan masalah lainya bagi petani. Mereka kesulitan dalam proses pemupukan, karena tidak ada hujan dan pupuk tidak bisa diserap oleh tanaman. Sehingga tanaman tidak subur dan mengakibatkan penurunan produktivitas.
Seraya Deja-vu baru-baru ini di bibawah pohon tempat petani beristirahat fasilitator LPB berkelekar,”Pak, Tuhan pun bingung dengan permintaan sampean dulu. Permintaan apa mas? Dulu sampean minta segera di kasih tanaman yang subur dan bagus. Tapi tidak dirawat dengan bagus sehingga hasil tidak maksimal. Selanjutnya minta musim berganti kemarau tuhan pun mengabulkan, tapi masih mengeluh kesulitan dalam pemupukan karena tidak ada hujan. Dan malah minta hujan tapi, pas musim penghujan minta kemarau”.
“Jika tuhan bingung apa lagi saya pak” ujan fasilitator LPB…..
(Hahahahahha,,) dan semua tertawa.
Ahir kata, ini bisa menjadi pelajaran bagi semua orang bahwa. Tuhan menciptakan musim yang sedemikian rupa pasti ada hal yang bisa kita maksimalkan. Karena semua itulah adalah berkah Illahi (Tuhan). Jika kita bisa memaksimalkan musim-musim tersebut tanpa melihat kekuranganya, pasti kita bisa menuai hasil yang maksimal. Waktu belum berahir, tiada kata yang indah selain kata BERUBAH bagi petani untuk masa depan yang lebih indah. (ZRK)
