Lembaga Pengembangan Bisnis Pama Daya Taka (LPB-PDT) dalam rangka mengembangkan bisnis yang dijalankan oleh UMKM Mitra khususnya bidang perkebunan karet, mengadakan program pelatihan peningkatan produktivitas tanaman karet untuk kelompok tani Masyarakat Mandiri Desa Legai. Kelompok tani yang beranggotakan 23 orang ini masih tetap focus dengan budidaya tanaman karetnya ditengah lautan perkebunan kelapa sawit yang semakin bertambah. Setiap jenis tanaman yang dibudidayakan tentunya memiliki tantangan dan kelebihannya masing-masing, begitu juga disektor perkebunan keret ini. Tantangan terbesar yang dihadapi oleh UMKM Mitra Kelompok Tani Masyarakat Mandiri dalam kurun waktu kurang lebih satu tahun ini yaitu rontok daun pada tanaman karet yang hingga kini mencapai enam kali dalam satu tahun ini, sedangkan dalam kondisi normal hanya mengalami rontok satu kali dalam satu tahun.
Kondisi yang dialami petani sebagaimana uraian diatas tentu berdampak pada menurunnya produktivitas yang dihasilkan dari perkebunan tanaman karet UMKM, yang berujung juga pada menurunnya omzet dari penjualan. Seperti yang disampaikan Subhan yang merupakan ketua kelompok tani Masyarakat Mandiri mengalami penurunan produktivitas sebesar 30%-40% dari sebelumnya. Hal ini merupakan dampak dari rontok daun pada tanaman yang dibudidayakan, dari 1000 pohon tanaman terdapat 40 tanaman yang mengalami rontok daun dan mengalami kematian. Tantangan ini yang dirasakan oleh semua anggota kelompok tani dan ini menjadi dasar Lembaga Pengembangan Bisnis Pama Daya Taka mengadakan program pelatihan peningkatan produktivitas tanaman karet sebagai bentuk peningkatan kualitas pengetahun dan kemampuan petani mengatasi kendala yang dihadapi saat ini.
Program pelatihan peningkatan produktivitas tanaman karet ini dilaksanakan pada tanggal 25 Mei 2022 dengan lokasi pelaksanaan di Aula Desa Legai dengan melibatkan Anggota Kelompok Tani “Masyarakat Mandiri”. Pada program kali ini LPB Pama Daya Taka mengundang pa Jadi yang merupakan Penyuluh Pertanian Lapangan dari Balai Penyuluh Pertanian Kecamatan Batu Sopang (PPL – BPP Batu Sopang) sebagai narasumber. Dalam sesi awal narasumber berdiskusi tentang kondisi disetiap kebun dari petani hingga proses budidaya yang sudah dikerjakan. Disesi selanjutnya narasumber menjelaskan tentang jenis hama pada tanaman karet dan penyakit tanaman karet yang dibagi dalam empat kategori yaitu; 1. Penyakit yang menyerang akar karet, 2. Penyakit yang menyerang pada batang karet, 3. penyakit yang menyerang bidang sadap, 4. Penyakit yang menyerang daun.
Pada diskusi selanjutnya narasumber lebih focus pada penyakit yang menyerang daun yang saat ini sedang dihadapi oleh petani. Dalam penyampaian oleh narasumber penyakit yang menyerang daun terbagi menjadi empat yaitu:
- Embun Tepung ( Oidium )
Umumnya menyerang daun-daun muda, penyebabnya adalah cendawan Oidium heveae, benang-benang hifa ini berwarna putih dan berpenghasil spora yang berbentuk tepung putih halus, penularan melalui angin. Gejala serangan perubahan warna daun dari hijau menjadi hitam, lemas, keriput dan berlendir, bagian bawah terdapat bercak bundar berwarna putih. Serangan embun tepung dipicu karena cuaca kering yang diselingi hujan singkat pada malam hari atau pagi hari saat tanaman membentuk daun-daun muda . Pencegahan dengan menanam klon PR 107,261, 300, AVROS 2037. Pengendalian dengan penyemprotan menggunakan Fungisida dan diikuti pemupukan pupuk N yang lebih banyak dari dosis biasanya.
- Colletotrichum
Penyebabnya cendawan Colletotrichum gloeosperoides, gejala serangan daun muda tampak lemas berwarna hitam, keriput, bagian ujungnya mati,menggulung dan akhirnya berguguran. Pada serangan daun tua adanya bercak coklat sampai hitam, berlubang, mengkeriput, dan bagian ujungnya mati. Serangan penyakit ini biasanya terjadi pada saat pembentukan daun-daun muda pada musim penghujan. Pencegahan dengan menanam klon PR 261,GT1, BPM 1, AVROS 2037, LCB 1320. Selain itu mempercepat pembentukan
daun – daun muda dengan pemupukan secara intensif. Pengendalian dengan fungisida seperti Manzate, Cobox, Capravit. Penggunaan Cobox dan Capravit jangan dilakukan pada saat penyadapan karena akan menurunkan mutu lateks.
- Phytophthora
Penyebabnya adalah cendawan Phytophthora botriosa atau Phytophthora palmivora. Gejalanya justru terlihat pada buah yang berwarna hitam dan membusuk, yang kemudian menular kedaun hingga tangkai, sehingga beberapa minggu kemudian berguguran, daun yang berguguran masih berwarna hijau tetapi sepanjang tangkainya terdapat bercak hitam dan gumpalan lateks. Pencegahan sama dengan Colletotrichum.
- Helminthosporium
Penyebabnya adalah cendawan Helminthosporium heveae, juga disebut penyakit mata burung. Menyerang tanaman muda dipesemaian, sehingga pertumbuhan tanaman terhambat yang mengakibatkan terlambatnya waktu mengokulasi.Serangan ini banyak terjadi pada musim kemarau, terutama terlalu banyak melakukan pemupukan N, kondisi lemah dan kekurangan air. Pengendalian yaitu dengan melakukan pengamatan setiap hari dari saat tanaman baru membentuk daun-daun muda, bila terdapat serangan langsung dikendalikan dengan Fungisida selama empat kali selisih waktu satu minggu.
Uraian diatas merupakan gambaran yang disampaikan oleh narasumber pelatihan harapannya petani memahami jenis penyakit yang menyerang pada tanaman karet serta cara menanggulanginya agar penyebaran penyakit dapat diatasi dengan tepat dan cepat.
Besar harapan kami UMKM Mitra khususnya anggota kelompok tani Masyarakat Mandiri Desa Legai mendapat manfaat dari program kali ini serta mampu untuk mengaplikasikan pada tanaman yang dibudidayakan sehingga tantangan yang saat ini dihadapi dapat diatasi dan produktivitas yang dihasilkan mengalami peningkatan. Terimakasih kepada semua pihak yang terlibat dalam mensukseskan program pelatihan kali ini khususnya kepada
PT. Pamapersada Nusantara Distrik Kideco dan Pemerintah Desa Legai yang selalu mensupport program-program LPB Pama Daya Taka serta Balai Penyuluh Pertanian Batu Sopang yang telah bersinergi guna melakukan pembinaan untuk UMKM Mitra.
