Di tengah geliat sektor perikanan air tawar, produktivitas budidaya ikan lele masih kerap terbentur kendala teknis yang sejatinya dapat diatasi dengan pendekatan yang lebih terarah. Menjawab tantangan tersebut, PT Pamapersada Nusantara melalui LPB Pama Daya Taka menginisiasi program pendampingan teknik budidaya lele di Desa Sungai Terik pada 15 dan 25 November 2024. Program ini menjadi langkah strategis untuk mendorong efisiensi usaha bagi para pelaku UMKM, seperti Pak Amsar dan Bu Asri. Sebanyak delapan peserta dari dua UMKM berpartisipasi dalam pendampingan yang dirancang khusus ini.
Potensi budidaya ikan lele pada UMKM binaan LPB Pama Daya Taka besar. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa hasil panen belum mencapai angka maksimal. Tantangan ini bukan hanya soal ekosistem, tetapi juga keterbatasan pemahaman para pembudidaya dalam menerapkan teknik budidaya yang sesuai standar. Akibatnya, biaya operasional membengkak sementara keuntungan yang diraih relatif kecil.
Kondisi ini mendorong perlunya pendampingan sebagai tindak lanjut dari pelatihan sebelumnya. Dengan pendekatan yang lebih personal dan praktis, pendampingan ini dirancang untuk memastikan materi yang telah dipelajari dapat diterapkan secara optimal sesuai dengan kondisi aktual.
Pendampingan Visit 1 dimulai pada 15 November 2024 dengan menghadirkan Bapak Syufuan Hadi, yang akrab disapa Pak Jaya, sebagai instruktur. Dalam kunjungan pertamanya, Pak Jaya bertemu Pak Amsar, salah satu pembudidaya lele di desa ini. Fokus utama diskusi adalah pengelolaan pakan ikan yang sesuai dengan standar Food Conversion Ratio (FCR).
“Pengelolaan pakan adalah elemen krusial. Jika pemberian pakan berlebihan atau tidak sesuai FCR, tidak hanya merugikan secara ekonomi, tetapi juga bisa memengaruhi kualitas air,” ujar Pak Jaya. Ia menjelaskan bahwa sisa pakan yang tidak dimakan ikan dapat mencemari air, memicu stres pada ikan, dan bahkan memicu perilaku kanibalisme.
Pak Jaya juga menyoroti pentingnya menjaga kualitas air. Ia merekomendasikan pengurasan air setiap dua hari untuk memastikan kondisi tetap optimal. “Idealnya, pH air berada di angka 7. Jika terlalu tinggi, seperti mencapai angka 9, ikan akan rentan stres,” tambahnya. Selain itu, pengecekan rutin kualitas air harus menjadi kebiasaan agar para pembudidaya dapat bertindak cepat jika ada perubahan signifikan.
Pada Visit ke-2 pada 25 November 2024 ditujukan kepada dua pembudidaya, yakni Pak Amsar dan Bu Asri. Dalam sesi ini, Pak Jaya memperkenalkan teknologi pembuangan pipa arah ke atas untuk menjaga debit air pada batas minimum. Sistem ini memungkinkan pembudidaya mengontrol aliran air di kolam secara lebih efisien.
Khusus untuk Bu Asri, Pak Jaya merekomendasikan penerapan teknologi Recirculating Aquaculture System (RAS). Sistem ini menggunakan sirkulasi air tertutup dengan aliran searah jarum jam untuk memastikan sisa pakan dan kotoran terkumpul di satu titik, sehingga lebih mudah disaring. “RAS tidak hanya membantu menjaga kualitas air, tetapi juga mengurangi frekuensi penggantian air, yang pada akhirnya menekan biaya operasional,” jelas Pak Jaya.
RAS juga memungkinkan kontrol yang lebih baik terhadap parameter lingkungan seperti suhu, pH, dan kadar oksigen. Dengan teknologi ini, para pembudidaya dapat memaksimalkan produktivitas meski memiliki ruang terbatas. Sistem ini sangat relevan untuk Bu Asri, yang menggunakan kolam terpal sebagai media budidaya.
Selain membahas aspek teknis, Pak Jaya juga memperkenalkan penggunaan campuran molase, EM4, dan air untuk meningkatkan stabilitas mikroorganisme dalam kolam. Campuran ini dibuat dengan perbandingan 3:5 (EM4:molase) yang dilarutkan dalam 2 liter air. Larutan ini didiamkan selama lima hari sebelum diaplikasikan ke kolam secara mingguan.
“Molase dan EM4 membantu menjaga keseimbangan ekosistem mikroba di kolam. Mikroba ini berfungsi untuk mengurai limbah organik dan menjaga kualitas air tetap stabil,” terang Pak Jaya. Ia juga menambahkan bahwa penggunaan larutan garam (250 gram untuk 5 liter air) dapat membantu mencegah infeksi bakteri pada ikan, terutama di kondisi air yang cenderung fluktuatif.
Program pendampingan ini diharapkan menjadi katalis bagi peningkatan efisiensi dan produktivitas budidaya lele bagi UMKM binaan. Melalui implementasi teknik FCR, pengelolaan air, dan penerapan teknologi seperti RAS, para pembudidaya diharapkan mampu mengurangi risiko kanibalisme, meningkatkan kualitas ikan, dan memaksimalkan hasil panen.
Di sisi lain, inovasi pakan berbasis molase dan EM4 tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga memberikan solusi ekonomis dalam menjaga kualitas air kolam. Jika langkah-langkah ini diterapkan dengan konsisten, budidaya lele tidak hanya akan memberikan keuntungan yang lebih besar, tetapi juga menjadi contoh praktik berkelanjutan yang dapat direplikasi di daerah lain.
Pendampingan teknik budidaya ikan lele ini membuktikan bahwa perubahan kecil dalam metode dapat membawa dampak besar. Dengan dukungan LPB Pama Daya Taka dan dedikasi instruktur seperti Pak Jaya, para UMKM binaan kini memiliki fondasi yang lebih kokoh untuk mengelola usaha mereka.
Perjalanan menuju keberhasilan memang tidak instan, tetapi dengan komitmen dan implementasi teknik yang tepat, tidak ada alasan bagi produktivitas budidaya ikan air tawar untuk tidak mencapai potensinya. Desa Sungai Terik kini siap menyongsong masa depan yang lebih cerah dalam sektor perikanan
