Pendampingan Digitalisasi Keuangan : Transformasi digital keuangan melalui SIAPIK (Sistem Informasi Aplikasi Pencatatan Informasi Keuangan)

Transformasi digital menjadi salah satu keniscayaan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di era modern ini. Dalam sektor keuangan, digitalisasi memiliki peran krusial dalam membantu UMKM mengelola bisnis dengan lebih baik. Pencatatan manual yang sering kali menjadi andalan pelaku usaha selama bertahun-tahun kini mulai ditinggalkan, digantikan oleh solusi digital yang menawarkan efisiensi, transparansi, dan keakuratan.

  1. Pamapersada Nusantara melalui LPB Pama Daya Taka, sebuah lembaga yang berfokus pada pembinaan UMKM, memahami kebutuhan ini. Melalui program Pendampingan Digitalisasi Keuangan, mereka memberikan pendampingan kepada 6 UMKM sektor kuliner untuk beralih dari pencatatan konvensional menuju sistem digital. Dengan melibatkan aplikasi SIAPIK sebagai alat utama, kegiatan ini diharapkan dapat membantu pelaku usaha mengelola keuangan dengan lebih optimal dan berkelanjutan.

Digitalisasi dalam pencatatan keuangan bukan hanya sekadar tren, melainkan kebutuhan strategis bagi UMKM. Dengan sistem digital, pelaku usaha dapat memantau aliran kas, memproyeksikan keuangan, dan membuat keputusan berbasis data yang akurat. Tanpa pencatatan yang rapi, sulit bagi UMKM untuk memahami kondisi keuangan mereka, yang pada akhirnya memengaruhi pertumbuhan bisnis.

Tujuan utama dari pendampingan ini adalah membantu UMKM mengadopsi digitalisasi keuangan sebagai bagian dari operasional sehari-hari. Dengan menggunakan aplikasi SIAPIK, para pelaku usaha diajarkan cara mencatat transaksi penerimaan, pengeluaran, hingga mengelola stok secara realtime. Harapannya, pelaku UMKM tidak hanya mendapatkan kemampuan teknis, tetapi juga wawasan tentang pentingnya pencatatan yang terintegrasi untuk pengambilan keputusan strategis.

Pendampingan ini berlangsung pada 31 Oktober dan 14 November 2024, dengan format hybrid di Galeri Mamere,  Para peserta adalah pelaku UMKM dari sektor kuliner, yaitu: Ibu Ida dari Dapoer INA, Ibu Gusti dari Jahitz, Ibu Wina dari Nanda’s Kitchen, Ibu Maria Rianti dari Dapur Bunda Ria, Ibu Ernawati dari Karina Snack, Ibu Anis dari Dapur Zhimika. Pendampingan langsung dilakukan oleh Bapak Triyono, seorang instruktur berpengalaman di bidang pengelolaan keuangan. Dengan pendekatan yang terarah, ia memastikan setiap peserta memahami fungsi dan manfaat aplikasi SIAPIK sesuai kebutuhan bisnis mereka.

Bapak Triyono melakukan tinjauan ulang terhadap tugas SIAPIK yang diberikan kepada beberapa UMKM binaan, memberikan penjelasan sesuai kebutuhan masing-masing.Kepada Ibu Ida dari Dapur INA, ia menekankan pentingnya langkah awal, yaitu mengisi saldo awal dengan benar sesuai data bulan sebelumnya, seperti Oktober jika transaksi dimulai pada November, serta memastikan neraca seimbang sebelum melanjutkan. Transaksi mencakup penerimaan (penjualan, utang, modal) dan pengeluaran (pembelian bahan, bayar utang, aset), yang harus dicatat secara detail, termasuk tanggal, nama pembeli atau toko, serta diskon jika ada. Biaya tambahan seperti ongkir dan administrasi bank dimasukkan ke akun beban untuk menjaga akurasi pencatatan. Ia menyarankan agar data diinput secara realtime dan stok fisik dicek di akhir bulan untuk disesuaikan dengan sistem. Pemindahan uang ke bank pribadi dianjurkan menggunakan akun “penarikan modal” agar keuangan usaha tetap terkelola dengan baik.

Kepada Ibu Maria dari Dapur Bunda Ria, Bapak Triyono menjelaskan cara menangani kesalahan data bahan material, yang dapat diperbaiki melalui menu “Data” sebelum transaksi dilakukan. Ia juga membahas pencatatan pembayaran utang oleh pelanggan melalui transaksi penjualan, dengan syarat data piutang sudah tercatat di saldo awal. Untuk utang jangka pendek (1 bulan), transaksi dapat dicatat sebagai penjualan biasa dengan metode pembayaran kredit, sehingga otomatis masuk ke piutang. Jika piutang ingin digugurkan dan tercatat sebagai pemasukan, cukup mencatat pembayaran pelanggan pada transaksi yang relevan, sehingga saldo piutang berkurang dan pemasukan bertambah.

Kepada Ibu Gusti dari Jahitz, Ibu Wina dari Nanda’s Kitchen, Ibu Ernawati dari Karina Snack, dan Ibu Anis dari Dapur Zhimika, Bapak Triyono memberikan arahan tambahan sesuai fokus usaha mereka. Ia menekankan pentingnya detail dalam mencatat transaksi, seperti nama toko atau pembeli, terutama untuk pembelian bahan atau material. Jika ada ongkos kirim atau biaya administrasi bank, ini dimasukkan ke akun beban agar tidak memengaruhi penyusutan aset. Semua transaksi, baik penerimaan maupun pengeluaran, harus dilakukan secara realtime untuk memudahkan rekonsiliasi bulanan. Ia juga mengingatkan bahwa stok fisik harus dicek secara rutin untuk menjaga akurasi data sistem dan memastikan semua laporan keuangan usaha sesuai dengan kondisi aktual.

Melalui pendampingan ini, LPB Pama Daya Taka berharap digitalisasi keuangan menjadi langkah awal bagi UMKM untuk tumbuh lebih profesional. Dengan memahami fitur-fitur SIAPIK seperti pencatatan saldo awal, pengelolaan piutang, hingga monitoring stok, para peserta diharapkan mampu mengoptimalkan sistem ini untuk mendukung pengambilan keputusan strategis.

Bapak Triyono berharap aplikasi ini tidak hanya menjadi alat pencatatan, tetapi juga membantu UMKM menciptakan efisiensi operasional, meningkatkan daya saing, dan membangun transparansi dalam pengelolaan bisnis. Ke depannya, digitalisasi keuangan diharapkan mendorong pertumbuhan usaha yang berkelanjutan sekaligus memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal.

By |2024-11-18T10:50:22+07:0018 November 2024|

About the Author: