Hari Rabu 16 Oktober 2024 Lembaga Pengembangan Bisnis (LPB) Pama Daya Taka telah melaksanakan kegiatan pelatihan OPT mati pucuk daun sawit bagi UMKM sektor Perkebunan kelapa sawit. Pelatihan ini diikuti sebanyak 15 UMKM yang bergerak pada usaha budidaya kelapa sawit. Pelatihan ini bertujuan untuk menjawab keluhan UMKM tentang tanaman kelapa sawit yang cukup banyak terserang Organisme Penganggu Tanaman (OPT) sehingga menyebabkan mati pucuk daun pada tanaman. Instruktur pada pelatihan ini adalah Hotma Tarigan yang memiliki segudang pengalaman dalam membina petani kelapa sawit dan telah berhasil meningkatkan produktivitas petani binaannya.
Bapak Rusdi Asri selaku Koordinator LPB Pama Daya Taka dalam pembukaannya menyampaikan bahwa pelatihan ini menjadi sangat penting untuk diikuti dengan baik oleh UMKM. Salah satu hal yang menjadi kendala besar dalam upaya meningkatkan produksi dan produktivitas kelapa sawit adalah adanya serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). Serangan OPT dapat menyebabkan kerusakan yang cukup signifikan yang pada akhirnya menimbulkan kerugian hasil dan pendapatan petani, salah satu dampak dari serangan OPT pada kelapa sawit adalah matinya pucuk daun tanaman. Berdasarkan hal tersebut maka. Lebih lanjut Bapak Rusdi menyampaikan bahwa pentingnya UMKM mengikuti pelatihan ini dengan baik sehingga harapannya petani dapat mengimplementasikannya pada proses budidayanya sehingga dapat mencegah penurunan produktivitas, meminimalisir kerugian secara finansial, serta dapat meningkatkan kualitas panen.
Kegiatan pelatihan ini dibuka secara resmi oleh Ibu Eliyanti selaku Sekretaris Desa Sungai Terik. Beliau menyampaikan ucapan terima kasih karena LPB Pama Daya Taka sangat sering mengadakan pelatihan yang dapat meningkatkan kompetensi bagi UMKM. Ibu Eliyanti berharap bahwa UMKM dapat mengikuti pelatihan dengan baik demi kemajuan usaha kelapa sawit yang dijalankan oleh UMKM.
Bapak Hotma Tarigan selaku instruktur mengawali pelatihan dengan memberikan pemahaman tentang 5 faktor yang mempengaruhi produksi kelapa sawit. Pertama adalah faktor genetik karena gen menentukan karakteristik dasar tanaman yang berkaitan dengan pertumbuhan, daya tahan, dan kemampuan menghasilkan buah. Faktor kedua adalah iklim karena kelapa sawit merupakan tanaman tropis yang sangat bergantung terhadap kondisi lingkungan tertentu untuk pertumbuhan yang optimal. Faktor ketiga adalah lahan karena kualitas dan karakteristik tanah menentukan kemampuan tanaman untuk tumbuh dengan baik dan menghasilkan buah secara optimal. Faktor keempat yaitu kultur teknis karena praktik-praktik ini mencakup teknik manajemen dan pemeliharaan tanaman yang secara langsung memengaruhi pertumbuhan, kesehatan, dan hasil panen. Faktor kelima yaitu manajemen panen karena proses panen yang tepat dan efisien langsung memengaruhi jumlah, kualitas, dan kontinyuitas hasil panen. Kelima faktor ini harus dipenuhi dengan baik oleh UMKM agar usaha budidaya kelapa sawit mendatangkan keuntungan yang baik.
Lebih lanjut instruktur menyampaikan terjadinya kematian pada pucuk daun kelapa sawit disebabkan oleh Fusarium sp. (jamur) dan Erwinia sp. (bakteri). Penyakit ini bisa menginfeksi bagian titik tumbuh tanaman kelapa sawit sehingga terjadi pembusukan di daerah pucuk yang menyebabkan tanaman mati. Upaya yang dapat dilakukan bila terjadi mati pucuk daun ini adalah dengan melakukan sanitasi dan menggunakan agen hayati. Selain itu kaitannya dengan 5 faktor penentu produktivitas kelapa sawit adalah faktor genetik dapat memengaruhi kerentanan tanaman terhadap infeksi, sehingga memilih bibit yang unggul dan tahan penyakit menjadi penting dalam mengurangi risiko mati pucuk. Frekuensi panen yang tidak teratur dapat menganggu pertumbuhan tanaman dan menambah stres pada tanaman dan meningkatkan kerentanan terhadap penyakit. Pengelolaan tanah yang baik, termasuk pemberian pupuk dan pengaturan air sangat penting untuk menjaga kesehatan tanaman kelapa sawit. Perubahan iklim yang ekstrem juga dapat memperburuk kondisi tanah seperti erosi atau kekeringan sehingga mempengaruhi kesehatan tanaman. Praktik budidaya yang baik seperti sanitasi dan pemeliharaan yang tepat dapat mencegah penyakit dan mengurangi risiko mati pucuk.
Bapak Sumaryadi yang merupakan salah satu UMKM binaan menyampaikan bahwa dirinya berterima kasih atas diselenggarakannya pelatihan mengenai OPT mati pucuk daun. Hal ini dikarenakan terdapat beberapa pohon kelapa sawit yang dibudidayakannya mengalami serangan OPT sehingga pucuk daunnya mengalami kematian dan mempengaruhi hasil yang diperoleh tidak maksimal. Lebih lanjut Bapak Sumaryadi mengatakan bahwa melalui pelatihan ini dirinya mengetahui bagaimana cara mengatasi permasalahan mati pucuk daun. Tidak hanya tentang mengatasi serangan OPT, namun juga mengetahui kiat-kiat sukses berbudidaya kelapa sawit yang berkelanjutan dengan memperhatikan 5 faktor penentu produktivitas kelapa sawit.
