Pendampingan Quality Control Produksi Sawit

Lembaga Pengembangan Bisnis (LPB) Pama Daya Taka telah melaksanakan kegiatan pendampingan Quality Control Produksi Sawit bagi UMKM sektor perkebunan kelapa sawit. Pendampingan ini dilakukan sebanyak 2 kali visit yakni pada tanggal 28 September dan 16 Oktober 2024. Pendampingan quality control ini diikuti sebanyak 15 UMKM sektor kelapa sawit. Kegiatan pendampingan ini merupakan tindak lanjut dari pelatihan quality control yang diikuti sebelumnya untuk memonitoring pengaplikasian materi pelatihan di lapangan. Bapak Hotma Tarigan selaku instruktur melihat secara langsung penerapan materi pelatihan serta memberikan masukan terhadap aspek-aspek yang masih keliru dalam penerapan quality control produksi sawit.

Terdapat beberapa aspek yang menjadi fokus pendampingan quality control produksi sawit. Salah satunya adalah adanya buku catatan petani kelapa sawit yang telah disosialisasikan pada saat pelatihan. Buku catatan ini membuat petani dapat mengelola risiko dengan lebih baik, artinya petani bisa lebih cepat dalam mengidentifikasi masalah seperti serangan hama, penyakit, atau penurunan produktivitas sehingga bisa melakukan tindakan preventif atau perbaikan lebih dini.

Tidak hanya sebagai pengelola risiko, buku catatan ini menjadi salah satu bentuk kepatuhan terhadap standar sertifikasi. Dalam upaya mendapatkan sertifikasi seperti ISPO (Indonesia Suistainable Palm Oil) petani diwajibkan memiliki dokumentasi lengkap tentang praktik pertanian yang berkelanjutan. Buku catatan ini menjadi alat penting untuk menunjukkan bahwa praktik budidaya kelapa sawit dilakukan dengan baik dan sesuai standar.

Komponen catatan panen atau penjualan TBS menjadi hal wajib yang harus ditulis oleh petani. Hal ini dikarenakan dengan mencatat jumlah TBS yang dipanen maka petani bisa memantau produktivitas lahan dari waktu ke waktu, mengevaluasi tren produksi, serta mengidentifikasi faktor yang memengaruhi hasil panen. Komponen pencatatan pembelian pupuk, racun, dan keperluan lainnya juga menjadi aspek yang harus dicatat oleh petani. Pencatatan pembelian pupuk, pestisida, dan keperluan kebun lainnya membuat petani dapat memantau pengeluaran secara detail dan mengelola biaya kebun secara efisien.

Catatan penggunaan pupuk juga menjadi komponen yang termuat dalam buku catatan petani kelapa sawit. Pencatatan penggunaan pupuk membantu petani memantau seberapa efektif aplikasi pupuk dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi kelapa sawit. Catatan ini juga memudahkankan petani merencanakan jadwal pemupukan di masa depan serta memastikan penggunaan pupuk tidak melebihi dosis yang aman. Penggunaan pestisida atau herbisida juga perlu dicatat oleh petani dalam buku ini. Pencatatan penggunaan racun membantu petani memantau jumlah dan jenis bahan kimia yang digunakan, sehingga tidak ada penggunaan yang berlebihan. Hal ini penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan menghindari pencemaran lingkungan.

Konten tentang dosis standar pupuk, cara menempatkan pupuk yang efektif, penggunaan pupuk hayati, alat pelindung diri (APD) yang harus digunakan, serta 5 faktor penentu produksi kelapa sawit juga termuat dalam buku catatan petani kelapa sawit. Hal ini bertujuan agar petani dalam melakukan proses budidaya sesuai dengan standar yang ditetapkan sehingga akan berdampak kepada produktivitas panen yang mumpuni. Instruktur bersama UMKM juga melakukan kunjungan ke kebun untuk melihat kondisi tanaman kelapa sawit serta memberikan beberapa masukan yang dapat diterapkan oleh UMKM kedepannya.

Bapak Musmulyadi yang merupakan salah satu UMKM binaan menyampaikan dirinya berterima kasih dengan diselenggarakannya kegiatan pendampingan quality control produksi sawit ini. Bapak Musmulyadi mengatakan bahwa selama ini dirinya kurang mencatat beberapa aspek yang ia keluarkan dalam pemeliharaan kelapa sawit seperti pembelian sarana produksi, dosis pupuk maupun pestisida yang digunakan, serta hasil panen TBS yang telah dijual. Hal ini menyebabkan dirinya tidak dapat memantau proses budidaya kelapa sawit yang dilakukan dengan maksimal, baik dari segi biaya yang dikeluarkan, produksi yang dihasilkan, serta pengelolaan risiko yang kurang baik. Lebih lanjut beliau menyampaikan bahwa dengan dilakukannya pendampingan ini tidak hanya memberikan manfaat dalam hal pencatatan, tetapi juga membantu dalam meningkatkan keberlanjutan usaha, meningkatkan pendapatan, dan mengoptimalkan hasil kebun secara berkelanjutan.

By |2024-10-21T14:33:30+07:0021 Oktober 2024|

About the Author: