Pada hari Selasa, 27 Agustus 2024, sebanyak 13 UMKM yang bergerak di bidang pertanian hortikultura berkumpul di Aula Desa Sungai Terik untuk mengikuti pelatihan yang sangat penting bagi masa depan usaha mereka. Pelatihan ini, yang diselenggarakan oleh Lembaga Pengembangan Bisnis (LPB) Pama Daya Taka, mengangkat topik tentang Good Agricultural Practices (GAP), sebuah pedoman atau standar praktik pertanian yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil pertanian, memastikan keamanan pangan, serta meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan manusia.
Dalam dunia pertanian, khususnya di sektor hortikultura, praktik budidaya yang baik dan benar sering kali menjadi faktor penentu keberhasilan usaha tani. Namun, sayangnya, banyak UMKM di sektor ini yang belum memahami dan menerapkan standar GAP dalam aktivitas budidaya mereka. GAP sendiri merupakan pedoman yang dirancang untuk memastikan setiap proses budidaya dilakukan dengan cara yang efisien, berkelanjutan, dan aman, baik bagi konsumen maupun lingkungan. Bagi UMKM hortikultura, penerapan GAP menjadi sangat penting untuk memenuhi standar QCD (Quality, Cost, Delivery). Standar ini tidak hanya menekankan pada kualitas hasil panen, tetapi juga pada efisiensi biaya dan ketepatan waktu pengiriman produk ke pasar. Dalam konteks ini, GAP menyediakan kerangka kerja yang komprehensif untuk mengelola setiap aspek dari proses budidaya, mulai dari persiapan lahan, pemilihan bibit, hingga pascapanen. Tanpa penerapan GAP, UMKM berisiko menghadapi berbagai tantangan, mulai dari rendahnya kualitas hasil panen hingga potensi kerugian ekonomi akibat praktik budidaya yang tidak efisien.
Acara pelatihan ini dibuka dengan sambutan dari beberapa pemangku kepentingan yang hadir. Koordinator LPB Pama Daya Taka, Bapak Rusdi Asri, menyampaikan pentingnya pelatihan ini bagi para petani di wilayah tersebut. Dalam sambutannya, beliau menekankan bahwa LPB Pama Daya Taka, sebagai bagian dari PT Pamapersada Nusantara, memiliki komitmen untuk mendampingi UMKM di sekitar wilayah operasional perusahaan. “LPB Pama Daya Taka menjalankan empat pilar utama, yaitu pelatihan, pendampingan, fasilitasi pemasaran, dan fasilitasi pembiayaan. Di sektor pertanian, pelatihan GAP ini menjadi sangat penting karena akan membahas tata cara budidaya pertanian yang baik sesuai dengan SOP yang berlaku,” ujar Bapak Rusdi. Lebih lanjut, Bapak Rusdi mengungkapkan bahwa pelatihan ini adalah kesempatan emas bagi para petani untuk meninjau kembali praktik budidaya yang telah mereka lakukan selama ini, serta untuk mengajukan pertanyaan seputar masalah yang mereka hadapi di lapangan. “Petani di wilayah ini sangat hebat karena mereka mampu mengatur segala aktivitas pertanian dari hulu hingga hilir. Namun, dengan bimbingan yang tepat, kita bisa memastikan bahwa praktik budidaya yang mereka lakukan tidak hanya memenuhi standar kualitas, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi yang maksimal dan ramah lingkungan,” tambahnya.
Sambutan selanjutnya disampaikan oleh Pak Sukarman, penyuluh pertanian dari Desa Sungai Terik. Beliau mengapresiasi upaya LPB Pama Daya Taka dan PT Pamapersada Nusantara yang terus memberikan dukungan kepada para petani di desanya. “Kegiatan-kegiatan di sektor pertanian yang difasilitasi PT Pama melalui LPB Pama Daya Taka ini sangat bermanfaat bagi petani, terutama dalam mendorong keberlangsungan pertanian di Desa Sungai Terik,” ujarnya. Tidak ketinggalan, Ibu Irna Mariati, yang mewakili Kepala Desa Sungai Terik, turut memberikan sambutan. Beliau menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada PT Pamapersada Nusantara dan LPB Pama Daya Taka atas pembinaan yang terus-menerus diberikan kepada masyarakat desa. “Kami berharap melalui pelatihan Good Agricultural Practices ini, para petani dapat menambah wawasan dan pengetahuan mereka, sehingga mampu menjawab tantangan di sektor pertanian dan meningkatkan produktivitas hasil tani,” kata Ibu Irna.
Pelatihan ini dipandu oleh Hotman Tarigan, seorang ahli di bidang pertanian yang sudah berpengalaman dalam menerapkan dan mengajarkan konsep GAP kepada berbagai kelompok tani. Dalam paparannya, Hotman menjelaskan bahwa GAP bukan sekadar serangkaian prosedur, tetapi sebuah pendekatan holistik yang mencakup seluruh proses budidaya dari hulu hingga hilir. “Proses budidaya yang baik dimulai dari manajemen kualitas lahan. Tanah yang sehat adalah kunci utama untuk mendapatkan hasil panen yang berkualitas. Kondisi biota tanah, seperti organisme yang hidup di dalamnya, serta kandungan unsur hara, sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman,” jelas Hotman. Beliau menambahkan bahwa ekosistem tanah yang kompleks harus dijaga dengan baik agar tanah dapat terus meregenerasi unsur hara secara alami. Hal ini tidak hanya membantu menekan biaya pelestarian hara, tetapi juga memastikan bahwa tanah tetap produktif dalam jangka panjang.
Dalam sesi diskusi, Hotman juga menyinggung tentang pentingnya meninjau kembali proses pengolahan lahan yang dilakukan oleh para petani. “Banyak petani yang masih menggunakan metode pengolahan lahan yang tidak sesuai dengan standar GAP, yang pada akhirnya berdampak negatif terhadap kualitas tanah dan produktivitas tanaman. Oleh karena itu, pelatihan ini juga bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana mengelola lahan dengan baik,” ujar Hotman.
Salah satu topik utama yang dibahas dalam pelatihan ini adalah ekologi tanah dan hubungannya dengan praktik budidaya yang berkelanjutan. Tanah bukan hanya sekadar media tempat tanaman tumbuh, tetapi juga merupakan ekosistem yang kompleks dengan berbagai organisme yang saling berinteraksi. Organisme ini, mulai dari mikroba hingga cacing tanah, memainkan peran penting dalam menjaga kesuburan tanah dan mendukung pertumbuhan tanaman. Hotman Tarigan menjelaskan bahwa setiap aktivitas pertanian yang dilakukan di atas tanah, seperti pembajakan, penanaman, dan pemupukan, akan berdampak pada ekosistem tanah tersebut. “Kita harus bijaksana dalam mengelola tanah agar tidak merusak keseimbangan ekosistemnya. Misalnya, penggunaan pestisida yang berlebihan dapat membunuh mikroorganisme yang bermanfaat, sehingga menurunkan kualitas tanah dan, pada akhirnya, produktivitas tanaman,” kata Hotman.
Beliau juga menggarisbawahi bahwa manajemen kualitas tanah harus menjadi prioritas utama dalam setiap proses budidaya. “Tanah yang sehat dapat meregenerasi unsur hara secara alami, sehingga biaya pelestarian dapat ditekan. Oleh karena itu, pengelolaan tanah yang baik tidak hanya akan meningkatkan hasil panen, tetapi juga mendukung keberlanjutan usaha tani dalam jangka panjang,” jelasnya.
Meskipun manfaat GAP sudah sangat jelas, Hotman Tarigan juga tidak menutup mata terhadap tantangan yang dihadapi para petani dalam menerapkan standar ini. Salah satu tantangan utama adalah kurangnya pengetahuan dan keterampilan teknis di kalangan petani, terutama dalam mengelola lahan dan tanaman sesuai dengan prinsip-prinsip GAP. Untuk mengatasi tantangan ini, Hotman menyarankan agar para petani terus meningkatkan kompetensi mereka melalui pelatihan dan pendampingan. “Pelatihan seperti ini adalah langkah awal yang sangat penting, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana para petani menerapkan ilmu yang mereka peroleh di lapangan. Oleh karena itu, kami juga mendorong adanya pendampingan secara berkala untuk memastikan bahwa praktik GAP benar-benar diterapkan,” ujarnya.
Hotman juga menekankan pentingnya kerja sama antara berbagai pihak, termasuk pemerintah, sektor swasta, dan lembaga pendidikan, dalam mendukung penerapan GAP di kalangan petani. “Dengan adanya kolaborasi yang baik, kita bisa menciptakan ekosistem pertanian yang lebih kuat dan berkelanjutan,” tambahnya.
Pelatihan ini diakhiri dengan sesi refleksi dan diskusi tentang harapan ke depan bagi UMKM hortikultura di Desa Sungai Terik. Para peserta menyampaikan bahwa pelatihan ini sangat bermanfaat bagi mereka, terutama dalam memahami pentingnya manajemen kualitas lahan dan penerapan GAP dalam budidaya pertanian.
Harapan dari pelatihan ini, seperti yang disampaikan oleh Hotman Tarigan, adalah agar para petani dapat semakin memperkuat proses budidaya mereka dengan menerapkan GAP secara konsisten. “GAP menekankan pentingnya pengelolaan kualitas lahan sebagai fondasi utama dalam budidaya. Dengan menjaga kesehatan biota tanah dan ekosistem di dalamnya, kita dapat memastikan bahwa tanaman tumbuh dengan baik dan sehat.”
