PENDAMPINGAN KEAMANAN PANGAN
Lembaga Pengembangan Bisnis (LPB) Pama Daya Taka telah melaksanakan kegiatan pendampingan keamanan pangan pada 10 Juni – 29 Juli 2024. Kegiatan pendampingan ini diikuti sebanyak 20 UMKM sektor kuliner. Kegiatan ini bertujuan untuk memonitoring perkembangan usaha UMKM, terutama dalam hal penggunaan bahan pangan yang aman dan berkualitas. Hal ini dilakukan sebagai tindak lanjut dari pelatihan keamanan pangan yang diikuti sebelumnya, dimana ditegaskan bahwa UMKM harus menggunakan bahan pangan yang aman digunakan dalam proses pembuatan produk olahan makanannya.
Salah satu aspek yang dimonitoring dalam kegiatan pendampingan ini adalah stiker/label yang digunakan UMKM pada kemasan. Setidaknya terdapat 9 aspek yang harus tercantum pada label kemasan produk seperti nama produk, komposisi, berat bersih, hingga asal-usul bahan pangan tertentu. Tujuan dari standarisasi aspek pada label tersebut selain karena menjadi syarat pada pengajuan sertifikat Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT), kesembilan aspek tersebut dapat menjadi nilai tambah pada branding produk UMKM. Hal ini dapat dilihat dari lengkapnya informasi yang tertera pada label sehingga konsumen dapat mengetahui kualitas dan kuantitas produk tersebut dan secara tidak langsung dapat meningkatkan ketertarikan konsumen terhadap produk dan konsumen pun menjadi aman untuk mengkonsumsi produk karena jelas asal-usul bahan pangan digunakan dalam pembuatan produk.
Aspek yang turut menjadi perhatian dalam pendampingan keamanan pangan adalah cara mengolahan bahan pangan menjadi produk siap makan. Semua bahan pada umumnya tidak dikonsumsi dalam bentuk bahan mentah, sehingga diperlukan metode yang baik dalam mengolah bahan pangan untuk dijadikan produk siap makan. Terdapat berbagai metode dalam mengolah bahan pangan menjadi produk siap makan seperti merebus, mengukus, membakar, memanggang, menumis, menggoreng, serta metode lainnya. Cara mengolah bahan pangan ini menjadi krusial untuk diperhatikan, karena bahan makanan yang berkualitas sekalipun jika dimasak dengan cara yang tidak tepat bisa mempengaruhi kandungan gizinya. Contohnya adalah banyak orang beranggapan metode merebus lebih sehat. Tetapi merebus sayuran terlalu lama justru bisa menghilangkan kandungan vitamin dan mineralnya. Contohnya lagi adalah ketika menggoreng ikan dengan minyak terlalu panas ternyata bisa merusak kandungan proteinnya. Berdasarkan hal tersebut maka cara pengolahan bahan pangan menjadi makanan yang siap santap menjadi penting diperhatikan, karena akan mempengaruhi kualitas dan kuantitas produk yang dihasilkan
Salah satu UMKM yang mengikuti pendampingan keamanan pangan yaitu Ibu Dewi Khoiriyatul menjelaskan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat bagi rekan-rekan UMKM lainnya serta untuk dirinya pribadi. Ibu Dewi menjelaskan bahwa selama ini dirinya belum terlalu memperhatikan keamanan pangan yang dia gunakan selama ini, yang penting adalah harganya murah, dapat kuantitas yang banyak, serta menghasilkan produk yang enak dilidah. Namun setelah mengikuti pelatihan dan pendampingan keamanan pangan dirinya menjadi paham bahwa pentingnya menjaga keamanan pangan dalam membuat produk olahan, baik dari segi pemilihan bahan baku, cara mengolah, hingga cara pengemasannya.
Menjaga keamanan pangan adalah pilar utama dalam industri kuliner yang tidak boleh diabaikan. Setiap tahap dalam proses penyediaan makanan, mulai dari penerimaan bahan baku hingga penyajian hidangan di meja, memerlukan perhatian khusus dan tindakan yang tepat untuk memastikan makanan aman dikonsumsi. Keamanan pangan tidak hanya melindungi kesehatan konsumen, tetapi juga membangun reputasi dan kepercayaan terhadap bisnis kuliner.
Harapan dari program pendampingan keamanan pangan UMKM dapat mengenal lebih dalam tentang usaha yang dilakukan, terutama dalam hal mengenai apa itu keamanan pangan dan bagaimana menjalankannya dengan benar untuk menjaga standar tertinggi dalam kualitas dan kebersihan makanan. Keamanan pangan adalah strategi fundamental yang sangat diprioritaskan. Implementasi keamanan pangan bukan hanya meningkatkan standar operasional dan kualitas proses bisnis, tetapi juga berperan krusial dalam mengantisipasi dan menghindari berbagai risiko yang mungkin terjadi di masa depan. Dengan memfokuskan perhatian pada keamanan pangan, UMKM tidak hanya menunjukkan dedikasi mereka terhadap kesehatan dan kepuasan pelanggan, tetapi juga memperkuat reputasi usaha dalam praktik-praktik terbaik industri kuliner.
