Pendampingan Jarak Tanam Kelapa Sawit Sistem Mata Lima Visit Ke-2

Lembaga Pengembangan Bisnis (LPB) Pama Daya Taka telah melaksanakan kegiatan pendampingan jarak tanam kelapa sawit sistem mata lima di Desa Legai Kecamatan Batu Sopang, lebih tepatnya di Kebun Bapak Kadri dan Bapak Yoyo. Kegiatan pendampingan ini diikuti oleh Kelompok Tani Susah Senang yang bergerak dibidang usaha perkebunan kelapa sawit. Bapak Hotma Tarigan berperan sebagai instruktur yang memandu kegiatan pendampingan ini. Tujuan dari pendampingan ini untuk mengevaluasi penerapan jarak tanam sistem mata lima pada pertanaman kelapa sawit yang dilakukan oleh petani, kemudian memberikan pemahaman tentang pentingnya untuk mengetahui nilai pH pada tanah, serta manfaat penggunaan mikoriza sebagai upaya pencegahan momok penyakit mematikan kelapa sawit yaitu ganoderma.

 

Kegiatan pendampingan diawali dengan melakukan peninjauan langsung ke lahan yang telah menerapkan jarak tanam sistem mata lima yang diterapkan oleh petani. Berdasarkan hasil pemantauan ditemukan beberapa hal yang masih keliru, contohnya adalah ukuran jarak yang digunakan tidak sesuai dengan patokan arah mata angin. Hal ini menyebabkan tidak terbentuknya pola mata lima pada pertanaman kelapa sawit, sehingga akan berakibat pelepah antar pohon kelapa sawit akan saling menutupi. Hal tersebut menyebabkan kurang maksimalnya penyerapan sinar matahari oleh pohon kelapa sawit.

 

Bapak Hotma Tarigan memberikan evaluasi serta rekomendasi perbaikan terkait dengan kekeliruan yang terjadi dalam pemancangan sistem mata lima tersebut. Pemancangan sistem mata lima harus berpatokan dengan arah mata angin untuk menentukan ukuran jarak tertentu. Contohnya adalah untuk arah utara ke selatan menggunakan jarak 7,8 meter antar barisnya, sedangkan untuk arah dari timur ke barat menggunakan jarak 9 meter antar pokok kelapa sawitnya. Hal yang menjadi krusial dalam pemancangan jarak tanam sistem mata lima ini adalah penentuan titik awalnya. Penentuan titik awal ini harus memperhatikan batas lahan yang akan dipancang, hal ini dilakukan agar tidak mengganggu lahan orang lain dan produktivitas kelapa sawit dapat lebih maksimal. Jarak dari batas lahan dengan arah utara ke selatan adalah 3,2 meter. Jarak dari batas lahan ke dari arah timur ke barat untuk baris pertama adalah 2,5 meter, kemudian jarak dari batas lahan pada baris kedua adalah 6,5 meter. Hal tersebut dilakukan secara bergantian dengan baris kelapa sawit yang bernomorkan ganjil menggunakan jarak 2,5 meter dari batas lahan dan baris kelapa sawit yang bernomorkan genap menggunakan jarak 6,5 meter dari batas lahan.

 

Kegiatan pendampingan dilanjutkan dengan sharing materi oleh instruktur mengenai pentingnya nilai pH. Nilai pH sangat menentukan dalam pertumbuhan tanaman kelapa sawit, sebanyak apapun dan sesering apapun pupuk yang diberikan jika nilai pH nya tidak mencapai 6,0-7,0 maka unsur hara yang terkandung dalam pupuk tidak akan terserap dengan baik oleh tanaman. Pengukuran pH tanah ini menjadi sangat penting karena petani dapat lebih menghemat biaya produksi terutama dalam hal membeli pupuk, hal tersebut dikarenakan selama ini petani memberikan pupuk tidak melihat nilai pH nya terlebih dahulu sehingga tingginya kuantitas dan intensitas pupuk yang diberikan tidak diiringi dengan meningkatnya produktivitas tanaman kelapa sawit.

 

Materi tentang manfaat pengaplikasian mikoriza juga disampaikan instruktur dalam kegiatan pendampingan ini. Paradigma yang selama ini diyakini oleh petani dalam upaya menangani penyakit ganoderma adalah dengan memberikan Trichoderma, padahal pemberian Trichoderma tersebut tidak dapat menyembuhkan tanaman yang terserang penyakit ganoderma. Solusi untuk mengatasi penyakit ganoderma adalah dengan pemberian mikoriza. Mikoriza ini ibaratkan seperti vaksin yang berfungsi untuk memberikan perlindungan kelapa sawit dari penyakit ganoderma, sehingga pemberian mikoriza pada kelapa sawit disarankan pada umur 1,5 tahun. Bibit kelapa sawit yang diberikan mikoriza akan terbebas dari penyakit ganoderma sehingga pengaplikasiannya menjadi sangat penting. Syarat agar pemberian mikoriza ini efektif adalah pH tanah memiliki nilai yang netral (6,0-7,0), hal ini disebabkan mikoriza bersifat hidup sehingga jika pH bernilai asam maka mikoriza akan mati.

 

Bapak Mail yang merupakan salah satu peserta yang mengikuti kegiatan pendampingan ini menuturkan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat bagi dirinya. Bapak Mail menyampaikan bahwa dirinya menjadi paham tentang teknis pemancangan menggunakan jarak tanam sistem mata lima dengan baik setelah diberikan pemahaman mendalam oleh Bapak Hotma Tarigan. Bapak Mail juga menyampaikan bahwa setelah mengikuti kegiatan pendampingan dirinya menjadi mengerti bahwa pengecekan nilai pH menjadi sangat penting dilakukan, karena sebanyak apapun pupuk yang diberikan tidak akan mampu diserap oleh tanaman karena nilai pH yang tidak netral. Lebih lanjut Bapak Mail menyampaikan bahwa dirinya baru mengetahui tentang penerapan mikoriza sebagai vaksin penyakit ganoderma. Adanya kegiatan pendampingan ini membuat Bapak Mail menjadi optimis dalam menjalankan usaha perkebunan kelapa sawitnya untuk mencapai kualitas dan kuantitas yang maksimal.

 

Kegiatan pendampingan ini diharapkan menjadi langkah penting menuju peningkatan kesejahteraan UMKM perkebunan kelapa sawit dan pembangunan industri kelapa sawit yang berkelanjutan sehingga dapat mencapai kemandirian UMKM.

About the Author: