BENCHMARK UMKM PERTANIAN

Lembaga Pengembangan Bisnis (LPB) Pama Daya Taka telah melaksanakan benchmark pertanian bagi UMKM binaan LPB Pama Daya Taka di sektor pertanian sebanyak 6 UMKM. Kegiatan benchmark ini dilakukan di Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Patra Tani, tepatnya di Desa Simpang Empat Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Banjar Provinsi Kalimantan Selatan.

 

Kegiatan benchmark diawali pembukaan oleh Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Simpang Empat, kemudian dilanjutkan dengan perkenalan lebih dalam tentang P4S Patra Tani seperti visi misi, kegiatan yang dilakukan, serta prestasi yang diperoleh. Pemaparan tersebut tentu menumbukan motivasi UMKM dalam mengembangkan usahanya, hal tersebut dikarenakan Pak Misrani yang merupakan salah satu orang berjuang dalam mengembangkan usaha hortikultura khususnya di P4S Patra Tani juga memulai usahanya dari nol hingga bisa mencapai titik saat ini. P4S Patra Tani saat ini sangat minim dalam mengeluarkan modal pribadi untuk menjalankan usahanya, bahkan mayoritas modal yang digunakan dalam usaha berasal dari bantuan dari beberapa instansi seperti PLN dan BI. Kepercayaan dari instansi-instansi tersebut dicapai karena P4S Patra Tani dapat membuktikan kualitas usaha yang dijalankan sehingga instansi tersebut tidak ragu dalam berkolaborasi dengan P4S Patra Tani dalam mengembangkan usaha sektor pertanian. Hal tersebut dapat menjadi motivasi tersendiri bagi UMKM bahwa siapapun dapat mencapai kemandirian dan kesuksesan dalam menjalankankan usahanya jika diikuti kesungguhan dan adanya rasa ingin terus belajar.

 

UMKM juga berdiskusi tentang perkembangan usaha disektor pertanian saat ini, seperti teknologi budidaya, penanganan pasca panen, serta strategi pemasarannya. UMKM disarankan untuk berfokus kepada peningkatan produksi ketimbang memperluas lahan pertanaman. Hal tersebut dikarenakan dengan luasan tanam komoditas cabai yang kurang lebih 280 m2 dapat menghasilkan produksi setara dengan produksi pada lahan 2 hektar. Hal ini disebabkan karena dalam melakukan usaha dilakukan dengan maksimal, baik dari persiapan lahannya, pembibitannya, perawatannya, hingga panen dan pasca panennya sehingga produksinya juga maksimal.

 

UMKM juga diperlihatkan penerapan Smart Farming dalam melakukan proses budidaya, contohnya adalah penggunaan alat Rapid Check Soil (RSC). Alat RSC ini berfungsi untuk mengukur kandungan unsur hara aktual dalam tanah seperti makro dan mikro, nilai pH tanah, kelembapan tanah, dan komponen lainnya. Alat RSC ini juga dapat memberikan rekomendasi dosis pupuk yang diberikan berdasarkan kondisi aktual kondisi tanah yang telah diukur melalui aplikasi di smartphone sehingga UMKM dapat memberikan dosis pupuk yang sesuai dengan kebutuhan tanah atau tanaman. Hal tersebut berdampak positif kepada usaha tani yang dilakukan karena biaya yang dikeluarkan untuk membeli pupuk menjadi lebih hemat, tanaman menjadi lebih sehat, serta dapat meminimalisir cemaran pada tanah akibat penggunaan unsur kimia yang berlebihan.

 

Rekan-rekan dari P4S Patra Tani turut mengajak UMKM untuk melihat secara langsung proses budidaya yang dilakukan di lapangan. UMKM melihat pertanaman cabai yang dilakukan, dimana jenis bibit cabai yang ditanam adalah varietas cabai lokal dengan nama Capat alias Cabai Simpang Empat. Varietas tersebut belum resmi diakui oleh instansi terkait karena masih dalam tahap pengajuan, varietas cabai hiyung juga ditanam di P4S Patra Tani.

 

Lebih lanjut UMKM juga melihat Green House untuk pembibitan dengan menggunakan teknologi penyiraman modern. Teknologi penyiraman ini menggunakan koneksi wifi sehingga penyiraman dapat dilakukan dimana saja menggunakan smartphone. UMKM juga melihat sistem penyiraman dengan metode fertigasi, metode ini diterapkan sebagai upaya menanggulangi krisis air akibat musim kemarau yang panjang. Metode fertigasi ini membuat penyiraman lebih tepat sasaran dan tidak boros dalam menggunakan air.

 

Bapak Toni yang merupakan salah satu UMKM yang ikut benchmark ini menuturkan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat bagi dirinya dan teman-teman UMKM lainnya karena dapat melihat secara langsung penerapan smart farming  dalam kegiatan usahatani. Bapak Toni menyampaikan bahwa penggunaan alat RSC sangat baik untuk diterapkan dalam usahataninya, karena dapat mengetahui dengan pasti kondisi hara tanah sehingga proses pemupukan yang dilakukan lebih akurat dan terukur serta dapat menekan pengeluaran biaya untuk pembelian pupuk. Bapak toni berharap teknologi smart farming dapat dengan segera diterapkan dilokasi usahanya.

Harapan dari kegiatan benchmark ini adalah UMKM dapat terbuka wawasannya karena di era saat ini penggunaan teknologi menjadi keharusan dalam melakukan budidaya pertanian. Hal tersebut terjadi karena adanya tantangan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi yang dihasilkan sehingga penerapan teknologi menjadi salah satu jawaban untuk menjawab tantangan tersebut.

By |2023-12-15T10:19:04+07:0015 Desember 2023|

About the Author: