Kegiatan pendampingan Perawatan Kebun Sawit Dan Teknis Panen visit 1 dilakukan hari sabtu tanggal 30 September 2023 di Desa Legai. Kegiatan pendampingan ini dilakukan kepada UMKM kelompok tani susah senang yang berjumlah sepuluh orang yang merupakan binaan LPB Pama Daya Taka.
Pelaksanaan kegiatan pendampingan ini didasari oleh permasalahan produktivitas tanaman kelapa sawit yang rendah atau besar nya gap produktivitas ideal tanaman kelapa sawit. Hasil identifikasi penyebab permasalahan tersebut adalah karena jarak tanam yang tidak standar serta rendahnya kandungan hara dan mikroorganisme tanah sehingga berpengaruh terhadap produktivitas tanaman kelapa sawit yang rendah. Solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan menggunakan jarak tanam sistem mata lima serta membuat dan menerapkan pupuk organik dalam kegiatan pemupukan tanaman kelapa sawit
Bapak Hotma Tarigan selaku instruktur dalam kegiatan pendampingan ini memandu UMKM dalam memancang jarak tanam kelapa sawit dengan sistem mata lima. Penggunaan jarak tanam sistem mata lima ini bertujuan agar penyinaran cahaya matahari dapat tersebar secara merata sehingga pertumbuhan tanaman kelapa sawit menjadi optimal, kemudian dapat memudahkan dalam perawatan kebun kelapa sawit.
Bapak Hotma Tarigan juga memandu dalam pembuatan pupuk organik yang menggunakan bahan-bahan atau limbah seperti bonggol pisang, tanah akar bambu, akar pakis, serabut kelapa, air cucian beras, molases, trichoderma, dan mikroorganisme EM 4. Semua bahan tersebut dicampurkan ke dalam wadah fermentasi yang dilarutkan dengan air. Setelah semua tercampur maka tutup wadah fermentasi selama 14 hari, dengan catatan dilakukan pengadukan setiap satu kali sehari.
Bapak Sumaryadi yang merupakan salah satu peserta pendampingan menyampaikan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat karena memeroleh ilmu pengetahuan baru. Bapak Sumaryadi juga menyampaikan bahwa kegiatan pendampingan ini menjadi evaluasi bagi pertanaman kelapa sawit yang dilakukan selama ini karena mengetahui penyebab rendahnya produktivitas kelapa sawitnya.
Kegiatan pendampingan Perawatan Kebun Sawit Dan Teknis Panen visit ke 2 dilakukan pada tanggal 17 Oktober 2023. Kegiatan pendampingan ini dilakukan kepada UMKM kelompok tani susah senang yang berjumlah 10 orang yang merupakan binaan LPB Pama Daya Taka. Kegiatan pendampingan ini dilakukan sebagai tindak lanjut dari kegiatan pendampingan visit 1 sebelum nya yang membahas mengenai jarak tanam mata lima kelapa sawit dan pembuatan pupuk organik cair. Kegiatan pendampingan ini bertujuan agar UMKM dapat melihat secara langsung praktik penerapan jarak tanam sistem mata lima dan hasil dari penggunaan pupuk organik dalam pemupukan kelapa sawit.
Bapak Hotma Tarigan yang menjadi instruktur mendampingi UMKM untuk melihat secara langsung kondisi tanaman kelapa sawit yang menerapkan jarak tanam model mata lima dan menggunakan pupuk organik cair dalam kegiatan pemupukannya. UMKM melihat kebun kelapa sawit yang menggunakan pupuk organik secara penuh, kebun kelapa sawit yang menggunakan pupuk kimiawi secara penuh, serta kebun kelapa sawit yang menggunakan pupuk organik dan kimia secara seimbang.
Hasil pengamatan kepada 3 jenis perlakuan terhadap kebun kelapa sawit ditarik kesimpulan bahwa kebun sawit yang menggunakan pupuk organik dan kimia secara seimbang menghasilkan kualitas dan kuantitas hasil tanaman kelapa sawit yang baik. Hal tersebut dapat dilihat dari pelepah sawit yang lentur sehingga berdampak kepada buah kelapa sawit yang besar dan matang sempurna. Kandungan hara atau mikroorganisme pada tanah di lahan kebun sawit tersebut juga baik, hal ini dapat dilihat tumbuh nya beberapa rumput atau tanaman di sekitar kebun sawit. Kombinasi penggunaan pupuk organik dan kimiawi menjadi anjuran karena terdapat beberapa kandungan yang diperlukan oleh tanaman kelapa sawit yang tidak tersedia secara maksimal oleh pupuk organik, sehingga harus di dukung oleh pupuk kimia.
UMKM juga melihat secara langsung praktik pembuatan pupuk organik. Pupuk organik yang digunakan berasal dari limbah atau bahan sederhana yang ada disekitar kita seperti rumput-rumputan, sampah dapur, serta kotoran atau urine sapi atau kambing. Pupuk organik harus difermentasi terlebih dahulu selama kurang lebih 2 Minggu. Pupuk organik yang dihasilkan berupa pupuk padat dan cair. Pupuk padat dapat digunakan jika telah berwarna hitam dan tidak berbau. Pupuk organik cair yang dihasilkan adalah seluri yang merupakan sari-sari hasil proses fermentasi. Seluri ini dapat diperoleh dari 1 ton limbah padat sebanyak 1 liter seluri.
Bapak mail yang merupakan salah satu peserta kegiatan pendampingan ini mengatakan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat bagi dirinya karena dapat melihat secara langsung kondisi kelapa sawit jika menggunakan jarak tanam mata lima dan melihat cara pembuatan dan penerapan pupuk organik terhadap tanaman kelapa sawit. Bapak mail juga menyampaikan bahwa sangat terlihat perbedaan antara kelapa sawit yang menerapkan jarak tanam mata lima dan pupuk organik dengan kelapa sawit yang tidak menerapkan jarak tanam mata lima dan pupuk organik cair, baik dari segi pertumbuhan tanaman, produktivitas buah, kesehatan tanaman, serta kesuburan tanah pada lahan. Harapannya dari kegiatan pendampingan ini adalah UMKM dapat menerapkan jarak tanam mata lima dan mulai menerapkan pupuk organik dalam pemupukan nya, karena UMKM sudah melihat secara nyata baiknya kualitas dan kuantitas kelapa sawit yang dihasilkan
