Semangat Pagi…
Sebagai tindak lanjut dari kegiatan pelatihan pembuatan pakan mandiri untuk siklus budidaya ikan yang telah terlaksana sebelumnya, Lembaga Pengembangan Bisnis Pama Daya Taka menyelenggarakan Pendampingan Siklus Budidaya dan Manajemen Pakan ikan lele. Lokasi bertempat di kolam budidaya pemijahan milik Pak Syufuan Hadi, selaku pemilik dari usaha “Mutiara Bersama” Fishery, dan kolam pembesaran milik Pak Eko Ari Susanto yang terletak didesa Batu Kajang, Kec. Batu sopang, Paser, Kalimantan Timur.
Kegiatan ini dimulai dengan pemantauan langsung ke kolam pembudidaya pemijahan dan pembesaran oleh Tim LPB PDT bersama dengan Ibu Aisyah M.,S.Pi selaku instruktur. Beliau memulai dengan diskusi sederhana terkait kendala dan tantangan dalam budidaya pemijahan ikan lele, mengecek kondisi ikan kesehatan, pertumbuhan benih ikan dan kondisi media air kolam.
Cuaca ektrem menjadi momok menakutkan bagi pembudidaya ikan lele, kasus lele menggantung ini banyak terjadi dan dialami para pembudidaya lele. Keadaan ini biasanya cukup merugikan para petani ikan lele, karena setelah menggantung di permukaan dan terlihat lemah biasanya ikan akan mati. Penyebab kondisi ini diantaranya adalah bibit atau benih yang terserang penyakit, air budidaya yang kotor dan kualitasnya buruk serta ph air kolam yang tidak sesuai.
Untuk mengatasi penyakit lele menggantung ini, instruktur menyarankan untuk menaburi garam pada kolam budidaya ikan lele, memeberi bawang putih yang telah digeprek ke dalam air kolam, memisahkan lele yang sehat dan yang sakit, membersihkan kotoran endapan yang ada pada kolam serta memberi pakan sedikit untuk untuk benih lele dan memuasakan ikan lele.
Kita temukan prilaku aneh ketika ikan lele berputar-putar dan tampak lemah serta sering tegak keatas dipermukaan ini menjadi indikasi terjadinya serangan virus. Virus yang menyerang termasuk golongan virus herpes yang diberi nama Channel Catfish Virus (CCV). Gejala lainnya biasanya bagian sirip dan perut mengalami pendarahan.
Penyebab kondisi ini diantaranya penebaran ikan yang melebihi kapasitas sehingga terlalu padat, perubahan suhu air yang terlalu signifikan serta jeleknya kualitas air kolam. Solusi yang di tawarkan intruktur dari permasalahan ini adalah dengan membenahi cara budidaya, seperti mempertimbangkan jumlah tebar ikan (kepadatan), menjaga kualitas air dan memberikan pakan yang berkualitas sesuai takaran (SOP).
Rekomendasi Pasca Pendampingan bagi UMKM, untuk lebih mudah dalam mengamati siklus budidaya buatkan papan siklus budidaya ikan selama 1 tahun, perlu menyediakan timbangan, serokan dan tempat pakan memudahkan dalam penerapan SOP pemberian pakan. Kultur cacing sutra (buat pakan larva ikan) sebelum melakukan pemijahan, Penbelian bibit yang bersertifikasi (balai benih), pengecekan kondisi ikan setelah hujan (pemberian garam), bibit yang aman dalam budidaya ukuran 7cm (tidak perlu disortir lagi) resiko ikan mati dan diserang penyakit. #HebatnyaUKM
