Pada umumnya, perantau dari jawa ke kalimantan akan lebih memilih menanam atau berkebun sawit karena dianggap lebih mudah dan lebih ekonomis. Tapi berbeda dengan petani yang satu ini. Dengan bemodal pengetahuan yang ada, beliau mantap untuk mengembangkan pertanian hortikultura di tanah perantauan.
Sunoto (55 Tahun ), itulah nama lengkap petani warga Desa Songka Kecamatan Batu Sopang Kabupaten Paser Kalimantan Timur. Bapak 2 orang anak ini yang awalnya mengerjakan kurang lebih 2 ha lahan milik salah satu warga setempat yang tidak dikelola dan tak terawat. Dengan berbekal niat dan kemauan yang tinggi, beliau mencoba menawarkan diri untuk mengelola lahan untuk bisa dimanfaatkan sebagai lahan hortikultura dan nantinya hasil yang didapat dibagi antara pengelola lahan dengan pemilik lahan, beruntung pemilik lahan sangat mendukung niat dari beliau yang mau berkembang sebagai petani hortikultura.
Di lahan 2 ha itu, secara perlahan beliau jadikan lahan pertanian seperti kacang panjang, cabai, terong, semangka, melon, dan tomat. Beliau ini tergolong nekat, lahan yang beliau garap ini tergolong cukup membutuhkan perlakuan yang ekstra, karena terletak di dekat dengan area petambangan dan mempunyai karateristik lahan yang agak berpasir. Dan kegiatan bertani hortikultura cukup jarang dilakukan oleh warga sekitar khususnya di Desa Songka. Masyarakat sekitar lebih memilih berkebun sawit dan karet.
Sebelum mengubah itu semua, memang harus ditempa dengan kesabaran. Kebetulan beliau menjadi salah satu petani mitra binaan LPB Pama Daya Taka sejak LPB didirikan di sana. Beliau sangat antusias mengikuti segala agenda pelatihan dan pendampingan yang diadakan LPB ataupun program dari Dinas terkait dalam hal untuk lebih meningkatkan pengetahuan beliau lebih banyak lagi dalam bidan hortikultura. “ Mendapat pelatihan, penyuluhan, pendampingan serta fasilitasi pemasaran bersama LPB, saya mencoba untuk mengubah keberuntungan nasib. Alhamdulillah, hasil yang saya terima sangat mencukupi untuk kebutuhan keluarga dan tabungan keluarga kami,” ujar pria ini.
Dengan bertani hortikultura, bukan hanya beliau saja yang menikmati hasilnya, beberapa kelompok masyarakat diajak beliau untuk belajar bertani hortikultura, dengan bantuan LPB dan dinas terkait, Pak Sunoto selalu mengajak untuk berani keluar dari zona nyaman yaitu dengan bertani. Dengan adanya kelompok tani Sumber Baru, komunikasi pak sunoto dengan 30 anggota yang lain jadi lebih sering dilakukan setiap bulanya. Dengan pembahasan yang bervariasi mulai dari harga, hama penyakit dan lain-lain.
Pak sunoto dalam mengerjakan lahannya tidak hanya dibantu istri dan anak, beliau juga terkadang mengajak masyarakat sekitar untuk bekerja di lahan beliau. Dan ketika ada hasil yang melimpah, tak jarang beliau juga membagikan hasil panen kepada tetangga sekitar tempat tinggal beliau.Tak jarang beliau juga merasakan gagal panen dan bahkan tertipu dengan tengkulak yang mengambil produk hasil panen tetapi tidak dibayarkan uangnya. Hal ini tidak membuat beliau patah semangat, bahkan menjadi motivasi beliau untuk bisa berimprovement dan lebih berhati-hati ketika terjadi permasalahan yang sama.
Kini dengan usaha hortikultura yang dikelola, beliau sudah memiliki beberapa aset sendiri mulai dari tanah, rumah dan kendaraan. Beberapa lahan yang beliau beli, selain untuk investasi dimanfaatkan beliau untuk mengembangkan usaha hortikultura. Dan beliau kini aktif dalam program penyuluhan yang digagas LPB dan Dinas Terkait untuk dapat menularkan pengalaman kepada masyarakat sekitar yang ingin mengembangkan usaha hortikultura di daerahnya. Beberapa mahasiswa dari Universitas sering berkunjung ke lahan beliau untuk sekedar berbagi kebahagiaan dan cerita seputar pengembangan usaha hortikultura yang dirasa beberapa orang susah untuk dikembangkan di sana tetapi Pak Sunoto dapat mengatasi itu semua. Hal menarik yang bisa kita ambil dari cerita Pak Sunoto adalah, “Setiap usaha yang didasarai niat yang tulus dan menerima apapun hasilnya dengan iklas, Insyaallah akan bisa terus berjalan dan berkembang.”
