Tahun 2020 merupakan tahun yang terbilang penuh tantangan, beberapa program yang telah disusun pada saat planning cycle terpaksa ada beberapa yang harus ditunda terlebih dahulu, termasuk program pelatihan dan pendampingan. Hal ini berdampak juga terhadap program sektor unggulan LPB PDT di bidang perkebunan kelapa sawit. Didalam program sektor unggulan, LPB PDT dan YDBA menggandeng PT. Astra Agro Lestari sebagai ayah angkat dari kelompok tani susah senang yang bertindak sebagai UKM Mitra binaan. Dalam masa Pandemi Covid-19 semua pihak dihimbau untuk membatasi semua aktifitas yang berpotensi menimbulkan kerumunan orang banyak, bukan hanya pemerintah yang menghimbau tentang sosialsocialncing, tetapi beberapa perusahaan dan bahkan dari internal YDBA pun menghimbau agar aktifitas yang berpotensi menimbulkan dampak penularan covid-19 terhadap member LPB untuk di kurangi terlebih dahulu. Pada bulan Februari tim LPB sempat berdiskusi dengan PIC dari PSM ( Partneship & Smartholder Management ) PT.Astra Agro Lestari , Bapak Yudi Prabowo, bahwasanya kemungkinan beberapa program pelatihan dan pendampingan dari AAL terhadap kelompok susah senang sebagai Mitra Binaan kemungkinan aka nada kendala terkait teknis pelaksanaan kegiatannya. Oleh karena itu LPB PDT berinisiatif untuk berperan sebagai jembatan penengah Antara AAL dan Kelompok Tani Susah senang, agar kelompok tani juga merasa diperhatikan dan tetap mempunyai semangat bukan hanya menjalankan bisnis kelapa sawit, tetapi juga dalam peningkatan produksi bahan baku kelapa sawit dan tetap di supply untuk pabrik AAL.
Pada bulan Juni, AAL mencoba meluncurkan program pembinaan dan pendampingan yang dilakukan secara online yang diperuntukan ke semua karyawan AAL dan beberapa kelompok mitra AAL yang ada di seluruh Indonesia. Pak yudi selaku PIC dari Dept. PSM ALL langsung menginformasikan program ini ke Tim LPB, dan mencoba berdiskusi berbagai simulasi agar di kemudian hari program pelatihan dan pendampingan online juga bisa dirasakan kelompok tani susah senang. Melihat hal yang sangat positif ini, tim LPB berdiskusi juga dengan tim dari dept.TM YDBA, karena beberapa materi yang disampaikan di dalam program pelatihan dan pendampingan online ini masih sejalan dengan materi program pelatihan yang LPB susun. LPB mulai menyusun planning agar apa yang menjadi program dari AAL bisa maksimal di terima oleh kelompok tani. Mulai dari perizinan dari pemerintah setempat, beberapa procedure yang sesuai dengan protocol covid 19 mulai dari menyiapkan masker dan sabun pencuci tangan, hingga beberapa infrastruktur yang mendukung dilakukanya streaming video pemateri dan aplikasi komunikasi (Zoom) . Beberapa kendala dilapangan kami jumpai, terutama yang berkaitan tentang sinyal dan procedure covid, beruntung di rumah pak mail (ketua kelompok tani susah senang) sudah tersedia layanan indihome di rumah beliau. Kemudian terkait procedure covid, tim LPB meminta rekomendasi dari pemerintah desa setempat dan membuat komitmen untuk nantinya pelaksanaan tetap dalam procedure covid-19.
Pelatihan dilaksanakan pada tanggal 12 dan 18 Juni 2020 di rumah Pak Mail. Pelatihan berjalan lancar dan komunikatif, walaupun waktu pelatihan yang diadakan sangat terbatas dan terdapat beberapa gangguan teknis, tetaoi tidak menyurutkan niat petani untuk tetap dapat belajar dan menanyakan apa yang menjadi masalah mereka selama ini di dalam forum online ini. Selain pelatihan dan pembinaan yang dilakukan secara online, tim AAL juga memberikan uji kompetensi terhadap mitra secara online untuk mengetahui sejauh mana pemahaman petani dalam menyerap isi dari pelatihan yang sudah disampaikan. Dan sebagai tool AAL dalam mengklasifikasikan anggota kemitraannya sudah di level apa. Dalam pelatihan dan pendampingan ini, materi yang disampaikan adalah terkait Pengendalian Hama Terpadu dan Gejala Defisiensi Unsur Hara Terhadap Tanaman Sawit. Kelompok tani susah senang sangat antusias sekali menyimak materi yang disampaikan, dan beberapa pertanyaan langsung ditanyakan kepada narasumber, seperti halnya cara mengetahui penggunaan pupuk majemuk dan pupuk tunggal terhadap tanaman dan bagaimana ciri dari tanaman yang kelebihan dari salah satu komposisi pupuk. Walaupun peserta pelatihan tidak bisa bertatap muka secara langsung seperti halnya pelatihan yang biasa mereka ikuti, namun hal ini menjadikan pengalaman baru dan pengetahuan baru bagi para petani bahwa petani juga harus update terkait teknologi yang saat ini berkembang.
Dari kelompok tani susah senang yang hadir dalam pelatihan dan pendampingan online ada 4 orang ( Pak Mail, Pak Dahrani, Pak Ardiansyah, dan Pak Asha Budianto). Karena terbatasnya lokasi tempat pertemuan dan harus menyesuaikan protocol covid, maka di sepakaiti dari kelompok susah senang yang mewakili dalam pelatihan adalah 4 orang tersebut. Harapanya nantinya anggota kelompok yang lain dapat disampaiakn oleh anggota kelompok yang hadir. Disamping program pelatihan dan pendampingan secara online, LPB dan AAL bersepakat untuk membuat handbook yang berisi semua materi pelatihan dan pendampingan mulai dari level satu sampai dengan lima. Agar kedepanya, Kelompok Susah senang bisa mandiri belajar dan mempermudah mereka jika terdapat maasalah sementara waktu pandemi.
