Transformasi Tata Kelola Keuangan UMKM: LPB Pama Daya Taka Gelar Pelatihan Pembukuan Sederhana untuk Semua Sektor Binaan

 

Dalam upaya memperkuat fundamental ekonomi masyarakat di wilayah operasionalnya, Lembaga Pengembangan Bisnis (LPB) Pama Daya Taka menyelenggarakan agenda Pelatihan Pembukuan Sederhana. Kegiatan strategis ini dirancang khusus untuk meningkatkan kapasitas manajerial pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam mengelola aspek finansial usaha mereka secara profesional dan akuntabel.

Pelatihan yang berlangsung selama dua hari ini bertempat di Aula Kecamatan Batu Sopang dan diikuti oleh 60 pelaku UMKM yang merepresentasikan keberagaman sektor ekonomi lokal. Peserta yang hadir mencakup para pelaku usaha dari sektor kuliner, perikanan, pertanian, perkebunan, hingga jasa perbengkelan. Keberagaman sektor ini menunjukkan komitmen LPB Pama Daya Taka dalam menyentuh seluruh lini potensi ekonomi di wilayah ring 1 Pama site Kideco

Kegiatan dibuka dengan sambutan dari Bapak Rusdi selaku Koordinator LPB Pama Daya Taka. Dalam pemaparannya beliau menekankan bahwa keberlanjutan sebuah bisnis tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk, tetapi sangat bergantung pada pilar keuangan. “Masalah klasik yang sering dihadapi UMKM adalah tercampurnya uang pribadi dengan uang usaha. Melalui pelatihan ini kami ingin memastikan para pelaku usaha binaan mampu memetakan arus masuk dan keluar secara presisi, sehingga mereka memiliki data valid untuk menentukan Harga Pokok Produksi (HPP) yang akurat,” ujar Bapak Rusdi.

Senada dengan hal tersebut Bapak Firaas selaku perwakilan Corporate Social Responsibility (CSR) PT Pamapersada Nusantara Distrik Kideco menegaskan bahwa agenda ini merupakan manifestasi nyata dari komitmen perusahaan dalam memberdayakan masyarakat di area Ring 1. Menurutnya aspek keuangan adalah kelemahan yang sering kali membuat UMKM sulit melakukan eskalasi bisnis (scaling up). Dengan membenahi tata kelola keuangan Pama berharap UMKM dapat tumbuh menjadi entitas bisnis yang lebih tangguh dan mandiri.

Secara resmi, kegiatan ini dibuka oleh Sekretaris Camat Batu Sopang, Bapak Wijanarko. Dalam arahannya beliau memberikan apresiasi tinggi kepada PT Pamapersada Nusantara melalui LPB Pama Daya Taka yang secara konsisten memberikan pendampingan bagi UMKM di wilayah Kecamatan Batu Sopang dan Kecamatan Muara Samu. Beliau juga memberikan pesan mendalam mengenai urgensi penentuan HPP. “Jangan sampai kita hanya mendapatkan lelahnya saja tanpa mendapatkan laba yang semestinya. Banyak pelaku usaha merasa penjualannya tinggi, namun di akhir bulan tidak memiliki sisa dana untuk pengembangan karena salah dalam menentukan harga jual,” tegas Bapak Wijanarko.

Untuk memastikan materi tersampaikan dengan standar profesional, LPB menghadirkan instruktur kompeten dari internal perusahaan yakni Bapak Zulfikar dan Bapak Riko dari Departemen Finansial Keuangan PT Pama Site Kideco. Materi dimulai dengan pemahaman dasar mengenai urgensi pembukuan bagi UMKM. Instruktur menjelaskan bahwa pembukuan bukan sekadar catatan pengeluaran, melainkan instrumen pengambilan keputusan. Tanpa pembukuan, pelaku usaha tidak akan mengetahui apakah usahanya sedang bertumbuh atau justru mengalami erosi modal secara perlahan.

Peserta dibekali pemahaman mengenai dua buku utama:

Buku Arus Kas (Cash Flow) Mencatat setiap rupiah yang masuk dan keluar secara kronologis. Ini berfungsi untuk menjaga likuiditas usaha agar operasional harian tetap berjalan lancar. Buku Piutang, sering kali UMKM mengabaikan pencatatan piutang pelanggan yang jika terakumulasi dapat mengganggu kesehatan finansial bisnis. Instruktur menekankan pentingnya penagihan yang terorganisir melalui catatan yang rapi.

Salah satu inti materi adalah penghitungan HPP. Banyak UMKM selama ini menentukan harga jual hanya berdasarkan harga pasar tanpa menghitung biaya-biaya tersembunyi seperti biaya penyusutan alat, biaya tenaga kerja pemilik usaha, hingga biaya utilitas (listrik dan air). Instruktur memandu para peserta untuk melakukan praktik langsung berdasarkan kondisi nyata usaha mereka masing-masing. Melalui simulasi ini, peserta diajak untuk memasukkan variabel biaya tetap (fixed cost) dan biaya variabel (variable cost) ke dalam rumus guna mendapatkan angka dasar sebelum menentukan margin keuntungan.

Dampak dari pelatihan ini dirasakan langsung oleh peserta. Ibu Irmawati salah satu pelaku usaha yang hadir mengungkapkan sebuah fakta yang cukup mengejutkan bagi dirinya sendiri. “Selama ini saya merasa jualan saya menguntungkan karena uang di laci selalu ada. Namun setelah melakukan praktik penghitungan HPP dan pembukuan sederhana di sini, saya baru sadar bahwa ternyata selama ini saya mengalami kerugian secara sistematis. Biaya-biaya kecil yang tidak saya catat ternyata jumlahnya besar,” ungkapnya. Beliau berkomitmen untuk segera merombak struktur harga dan sistem pencatatan usahanya demi keberlangsungan di masa depan.

Pelatihan ini bukanlah sebuah agenda seremonial belaka, melainkan bagian dari desain besar pengembangan masyarakat yang diusung oleh PT Pamapersada Nusantara site Kideco. Fokus pada wilayah Ring 1 merupakan strategi untuk memastikan bahwa keberadaan industri memberikan dampak ekonomi yang inklusif bagi masyarakat sekitar.

Dengan membekali UMKM kemampuan manajemen keuangan, diharapkan terjadi pergeseran paradigma dari usaha yang bersifat “sekadar bertahan hidup” (subsistence) menjadi usaha yang berorientasi pada profit dan pertumbuhan (growth-oriented).

Harapan dari pelaksanaan pelatihan ini adalah UMKM mampu mengelola risiko finansial secara mandiri tanpa bergantung penuh pada bantuan modal eksternal. Dengan HPP yang tepat, UMKM dapat bersaing secara sehat di pasar lokal maupun nasional. Pembukuan yang rapi akan memudahkan UMKM untuk mengakses fasilitas kredit perbankan guna ekspansi bisnis di masa depan. LPB Pama Daya Taka berkomitmen untuk terus melakukan monitoring dan evaluasi pasca-pelatihan guna memastikan setiap peserta mengimplementasikan ilmu yang telah didapat dalam operasional harian mereka.

About the Author: