{"id":16151,"date":"2026-07-15T08:45:10","date_gmt":"2026-07-15T01:45:10","guid":{"rendered":"http:\/\/lpbpamadayataka.com\/?p=16151"},"modified":"2026-07-15T08:45:10","modified_gmt":"2026-07-15T01:45:10","slug":"lpb-pama-daya-taka-laksanakan-pendampingan-quality-control-bagi-22-umkm-binaan-sektor-kuliner","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lpbpamadayataka.com\/?p=16151","title":{"rendered":"LPB Pama Daya Taka Laksanakan Pendampingan Quality Control bagi 22 UMKM Binaan Sektor Kuliner"},"content":{"rendered":"<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Dalam upaya meningkatkan daya saing dan kualitas produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) binaan, Lembaga Pengembangan Bisnis (LPB) Pama Daya Taka melaksanakan kegiatan Pendampingan Quality Control (QC) bagi UMKM sektor kuliner. Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk komitmen LPB Pama Daya Taka dalam mendukung pengembangan kapasitas pelaku usaha agar mampu menghasilkan produk yang berkualitas, konsisten, dan mampu memenuhi kebutuhan pasar yang terus berkembang.<\/p>\n<p>Pendampingan ini diikuti oleh sebanyak 22 UMKM binaan yang bergerak di berbagai bidang usaha kuliner. Melalui kegiatan ini para pelaku UMKM mendapatkan kesempatan untuk berdiskusi secara langsung mengenai berbagai tantangan yang dihadapi dalam menjaga kualitas produk, sekaligus memperoleh solusi praktis yang dapat diterapkan dalam operasional usaha sehari-hari.<\/p>\n<p>LPB Pama Daya Taka menghadirkan Ibu Bela seorang pelaku usaha kuliner yang telah berhasil mengembangkan bisnisnya melalui brand King Foodies. Saat ini usaha yang dikelolanya telah berkembang hingga memiliki empat cabang. Pengalaman panjang dalam mengelola bisnis kuliner menjadi modal berharga yang dibagikan kepada para UMKM. Kehadiran Ibu Bela diharapkan tidak hanya memberikan pengetahuan teknis mengenai quality control, tetapi juga menjadi inspirasi bagi para UMKM untuk terus berkembang dan berani meningkatkan skala usahanya.<\/p>\n<p>Pendampingan quality control ini dilaksanakan dengan metode kunjungan langsung ke rumah produksi masing-masing UMKM. Pendekatan ini dipilih agar proses pendampingan dapat berlangsung lebih efektif karena instruktur dapat melihat secara langsung kondisi usaha, alur produksi, penggunaan peralatan, hingga sistem kerja yang diterapkan oleh setiap pelaku usaha.<\/p>\n<p>Dalam setiap kunjungan Ibu Bela berdiskusi secara intensif dengan pemilik UMKM mengenai berbagai aspek penting dalam menjaga quality control. Pembahasan tidak hanya berfokus pada kualitas rasa produk, tetapi juga mencakup pemilihan bahan baku, proses penyimpanan, standar produksi, kebersihan area kerja, teknik pengemasan, hingga proses distribusi kepada konsumen. Dengan melakukan observasi secara langsung, berbagai permasalahan yang selama ini menjadi hambatan dapat diidentifikasi secara lebih akurat.<\/p>\n<p>Salah satu kendala yang paling sering ditemukan adalah perubahan rasa produk ketika jumlah pesanan meningkat secara signifikan. Kondisi ini umum terjadi pada usaha kuliner yang sedang berkembang. Pada saat pesanan masih dalam jumlah kecil, proses produksi biasanya dilakukan secara lebih teliti sehingga kualitas rasa dapat terjaga. Namun ketika jumlah pesanan meningkat, pelaku usaha sering kali melakukan penyesuaian takaran bahan secara cepat tanpa panduan yang jelas. Akibatnya komposisi bahan menjadi tidak konsisten sehingga rasa produk yang dihasilkan mengalami perubahan.<\/p>\n<p>Peningkatan volume produksi juga sering menyebabkan pelaku usaha bekerja dalam tekanan waktu yang lebih tinggi. Dalam kondisi terburu-buru proses pengolahan dapat menjadi kurang optimal, seperti waktu memasak yang berbeda, penggunaan bahan baku yang tidak seragam, atau kurangnya pengawasan selama proses produksi. Jika kondisi ini terus terjadi, konsumen akan merasakan perbedaan kualitas produk dari satu pesanan ke pesanan lainnya. Dalam jangka panjang hal tersebut dapat menurunkan tingkat kepuasan pelanggan dan mengurangi kepercayaan terhadap brand usaha yang telah dibangun.<\/p>\n<p>Menanggapi permasalahan tersebut, Ibu Bela menekankan pentingnya penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) pada setiap tahapan usaha. SOP merupakan fondasi utama dalam menjaga konsistensi kualitas produk, terutama ketika usaha mulai berkembang dan volume pesanan semakin meningkat.<\/p>\n<p>Penyusunan SOP dimulai dari proses pembelian bahan baku. Pelaku UMKM perlu menentukan standar kualitas bahan yang digunakan, termasuk kriteria pemasok, tingkat kesegaran bahan, ukuran, serta spesifikasi lainnya. Dengan adanya standar yang jelas, kualitas bahan baku yang masuk dapat tetap terjaga.<\/p>\n<p>Tahapan berikutnya adalah SOP penyimpanan bahan baku. Setiap bahan memiliki karakteristik penyimpanan yang berbeda. Oleh karena itu, pelaku usaha perlu mengatur suhu penyimpanan, masa simpan, sistem pencatatan stok, serta metode rotasi bahan seperti prinsip first in first out (FIFO). Langkah ini penting untuk menjaga kualitas bahan sebelum digunakan dalam proses produksi.<\/p>\n<p>Pada tahap produksi SOP harus memuat secara rinci takaran bahan, urutan proses kerja, waktu pengolahan, suhu memasak, hingga standar hasil akhir yang diharapkan. Dengan adanya panduan tertulis, siapa pun yang terlibat dalam proses produksi dapat menghasilkan produk dengan kualitas yang sama.<\/p>\n<p>SOP pengemasan juga perlu disusun dengan baik. Pengemasan bukan hanya berfungsi sebagai pelindung produk, tetapi juga memengaruhi persepsi konsumen terhadap kualitas usaha. SOP pengemasan dapat mencakup standar kebersihan, jenis kemasan yang digunakan, teknik penutupan kemasan, hingga prosedur pengecekan sebelum produk dikirimkan.<\/p>\n<p>Pada tahap pengiriman SOP harus mengatur proses distribusi agar produk sampai kepada konsumen dalam kondisi terbaik. Hal ini meliputi waktu pengiriman, metode penyimpanan selama perjalanan, serta penanganan produk untuk menghindari kerusakan.<\/p>\n<p>Ibu Bela juga menekankan pentingnya SOP dalam proses penyajian produk. Bagi usaha yang menyediakan makanan siap santap, tata cara penyajian perlu diatur agar pengalaman konsumen tetap konsisten. Dengan demikian, kualitas produk tidak hanya terjaga dari sisi rasa, tetapi juga dari sisi penampilan dan kepuasan pelanggan.<\/p>\n<p>Selain permasalahan kualitas produk, kendala lain yang banyak ditemukan adalah kecenderungan pelaku UMKM menerima pesanan dalam jumlah besar tanpa mempertimbangkan kapasitas produksi yang dimiliki. Keinginan untuk meningkatkan pendapatan sering kali membuat pelaku usaha menerima seluruh pesanan yang masuk, meskipun sumber daya yang tersedia sebenarnya belum memadai.<\/p>\n<p>Akibatnya pelaku usaha mengalami kesulitan dalam memenuhi pesanan baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Produk yang dihasilkan menjadi tidak sesuai standar, waktu pengiriman terlambat, bahkan tidak jarang terdapat pesanan yang tidak dapat diselesaikan tepat waktu. Kondisi ini dapat berdampak negatif terhadap reputasi usaha dan mencoreng citra brand yang telah dibangun dengan susah payah.<\/p>\n<p>Ibu Bela menyampaikan pentingnya melakukan pengukuran kapasitas produksi secara objektif. Pelaku usaha perlu memahami kemampuan alat produksi yang dimiliki, seperti kapasitas oven, kompor, mixer, atau peralatan lainnya. Selain itu jumlah tenaga kerja yang tersedia juga harus diperhitungkan, termasuk kemampuan masing-masing pekerja dalam menyelesaikan tugas produksi.<\/p>\n<p>Faktor waktu menjadi aspek penting lainnya yang harus dihitung secara cermat. Pelaku usaha perlu mengetahui berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan sejumlah produk tertentu. Dengan mengombinasikan data mengenai kapasitas alat, tenaga kerja, dan waktu produksi, UMKM dapat menentukan batas maksimal pesanan yang mampu dipenuhi dengan tetap menjaga kualitas produk.<\/p>\n<p>Melalui pendekatan tersebut pelaku usaha dapat mengambil keputusan bisnis yang lebih bijak. Menolak pesanan yang melebihi kapasitas produksi sering kali jauh lebih baik dibandingkan menerima pesanan dalam jumlah besar tetapi gagal memenuhi ekspektasi pelanggan.<\/p>\n<p>Ibu Bela juga menekankan pentingnya budaya perbaikan berkelanjutan atau continuous improvement. Menurutnya setiap usaha pasti akan menghadapi tantangan dan permasalahan baru seiring dengan pertumbuhan bisnis. Oleh karena itu pelaku UMKM harus memiliki kemampuan untuk beradaptasi dan terus melakukan evaluasi terhadap proses usaha yang dijalankan.<\/p>\n<p>Setiap permasalahan yang ditemukan seharusnya menjadi bahan pembelajaran untuk melakukan perbaikan. Pelaku usaha tidak boleh terpaku pada cara kerja lama apabila terbukti sudah tidak efektif. Dengan sikap yang adaptif dan terbuka terhadap perubahan, UMKM akan lebih siap menghadapi dinamika pasar dan kebutuhan konsumen yang terus berkembang.<\/p>\n<p>Salah satu peserta pendampingan yakni Ibu Irmawati, menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih atas pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, pendampingan ini memberikan banyak wawasan baru yang sangat bermanfaat bagi pengembangan usahanya. Ia mengaku baru menyadari bahwa salah satu penyebab utama kurang maksimalnya pemenuhan pesanan selama ini adalah karena belum adanya SOP tertulis yang baku.<\/p>\n<p>Selama ini sebagian besar proses produksi dilakukan berdasarkan perkiraan dan kebiasaan yang telah berlangsung secara turun-temurun. Akibatnya takaran bahan maupun proses kerja sering kali berbeda, terutama ketika dikerjakan oleh orang yang berbeda. Setelah mengikuti pendampingan, Ibu Irmawati memahami pentingnya mendokumentasikan seluruh proses usaha dalam bentuk SOP agar kualitas produk dapat lebih terjaga dan konsisten.<\/p>\n<p>Melalui kegiatan pendampingan Quality Control ini, LPB Pama Daya Taka berharap para UMKM binaan dapat meningkatkan kemampuan dalam mengelola kualitas produk secara lebih profesional. Selain itu diharapkan para pelaku usaha mampu menerapkan sistem kerja yang lebih terstruktur, meningkatkan kepuasan pelanggan, memperkuat citra merek, serta memperluas peluang pasar di masa mendatang. Dengan kualitas produk yang terjaga dan kapasitas usaha yang dikelola secara tepat, UMKM sektor kuliner diharapkan dapat tumbuh secara berkelanjutan dan menjadi usaha yang semakin kompetitif di tengah persaingan pasar yang semakin dinamis.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&nbsp; Dalam upaya meningkatkan daya saing dan kualitas produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) binaan, Lembaga Pengembangan Bisnis (LPB) Pama Daya Taka melaksanakan kegiatan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":16154,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[16,100,99,137,149,240,121],"tags":[232,230,229,241,65],"class_list":["post-16151","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita","category-cerita-pembinaan","category-cerita-ukm-makanan","category-jelajah-virtual","category-kelas-kuliner","category-pelatihan-quality-control","category-sektor-unggulan","tag-harmonywithcommunity","tag-hebatnyaumkm","tag-lpbpamadayataka","tag-pelatihanqc","tag-kabupaten-paser"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lpbpamadayataka.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/16151","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lpbpamadayataka.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lpbpamadayataka.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lpbpamadayataka.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lpbpamadayataka.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=16151"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lpbpamadayataka.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/16151\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":16158,"href":"https:\/\/lpbpamadayataka.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/16151\/revisions\/16158"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lpbpamadayataka.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/16154"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lpbpamadayataka.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=16151"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lpbpamadayataka.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=16151"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lpbpamadayataka.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=16151"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}